The Broken Wings

___broken_wings_ii____by_all17-d3e3qf5
Keira mengayuh sepedanya kencang-kencang, tak di perdulikan ban belakang sepedanya yang kempes. Melaju menuju asrama warna
kuning muda, melemparkan sepedanya ke semak-semak begitu saja dan berlari masuk asrama itu.
“Dave.. Dave!!”
“Dave tak ada , barusan saja dia pergi!!”
“Kemana??” Keira memandang kamar diseberang kamar Dave, kamar orang yang barusan menyahutinya.
“Kau siapa? pacar Dave?  kemarilah, duduk dulu” kata seseorang dalam kamar itu, usianya kira-kira sebaya dengan Dave. Mungkin anak
baru di asrama ini. pikir Keira.
“Aku tak punya waktu” Keira berdiri  didepan pintu kamar Dave yang bersebrangan dengan pintu kamar penghuni baru itu.
“Minum dulu”  mengacungkan sebotol bir dingin. Keira menyeka keringatnya.
“Ayolah, namaku Ryan” akhirnya Keira menyerah pada haus tenggorokannya.

“Ah, sekarang sudah hilang sakitnya” kata Keira menekan-nekan tato bergambar sebelah sayap di pergelangan tangan kanannya. “Apanya? pergelangan tanganmu?” “Entah, tato ini serasa memanas dan berdenyut2, sakit” Keira memperlihatkan pergelangan tangannya. Menggosok-gosokan botol bir dingin itu ke tatonya, “Coba kulihat” Ryan meneliti pergelangan tangan Keira.

“Mengapa sayapnya cuma sebelah? Tato ini berpasangan? dengan siapa?” Ryan menatap Keira tajam.
“Dengan Dave lah!” Ryan terdiam.“Kei.. apakah kau sudah sering merasakan sakit pada tato mu ini?”
“Ya, sudah beberapa kali. Aku sudah bilang Dave, dia bilang aku harus memberitahu dia secepatnya kalau terasa sakit lagi, makanya aku cepat-cepat kemari”

“hmm…”
“Ikut aku Kei” Ryan berlari keluar diikuti dengan Keira.
“Ban sepedaku kempes”
“Kau kubonceng saja”

Ryan mengayuh sepedanya cepat-cepat, Keira dalam boncengannya mau tak mau memeluk erat-erat tubuh kurus Ryan. Mau kemana sih?
tanyanya dalam hati, tapi toh dia diam saja, menikmati angin yang menyapu wajahnya, menutup matanya karena angin itu terlalu tajam.
Ryan tiba-tiba menghentikan sepedanya, hampir saja Keira terlempar dari boncengannya.
“Kira-kira dong!” Keira turun dari sepea dengan tampang kesal.
“Maaf. kau kenal tempat ini?”
Alis Keira terangkat, dia mengamati sekelilingnya. Samar-samar ia teringat pernah kesini, tapi ia tak ingat kapan, sepertinya sudah lama sekali. Dengan Dave? Keira sama sekali tak ingat.

“Ayo masuk” Ryan menarik tangan Keira.
“Takut” Keira menahan diri. Rumah tua dari kayu ini membuatnya takut. Nyala lampu kuning temaran, pintu kayu yang tebal dan kokoh  membuatnya tak nyaman.
“Tak apa, ada aku”
“Tak lah, aku mau pulang saja” Keira tak beranjak.
“Kei, dengar. sini duduk” Ryan mengajak Keira duduk di tangga kayu rumah itu. Keira pun menurut.
“Kei, tentang Dave..”
“Kenapa dengan Dave?”
“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak… “

***
“Kei.. Keira!!” Keira melanjutkan langkahnya, tak peduli David yang memanggilnya.
“Kei!” Dave menarik pergelangan tangan Keira. Langkah Keira terhenti, memandang Dave tajam.
“Mau apa?” kata Keira dingin. Dave memandang pergelangan tangan Keira tak percaya.
“Tatoo mu, kau hapus?” Dave mengamati pergelangan tangan Keira. Mulus, dan bersih, tak ada sama sekali bekas tatoo ditangannya.
“Ya, aku hapus. Maaf Dave, aku sudah tau siapa dirimu”
Tiba-tiba wajah Dave terlihat kesakitan.
Dave betumpu pada kedua lututnya sambil memegangi tato dipergelangan tangannya yang kini kelihatan memerah. Tubuhnya menggeliat, keringat dingin mengalir menahan sakit.
“Siapa yang billang padamu?”
Tubuh Dave terus menggeliat, punggungnya menonjol, bajunya robek karena sesuatu mencuat dari punggungnya. Keira berteriak ngeri.
“Dave? kau kenapa??”
Tonjolan itu membesar, tiba-tiba keluar sebuah sayap putih dari punggung kirinya. Dave berlutut, sayap itu hanya sebelah. Tato ditangannya merah menyala seperti terbakar.
“S.. siapa yang bilang Keira??”
“Satu : kosong, Dave” kata suara di belakang Dave.
Keira ternganga.
“Ryan.. tolong Dave!” Keira memandang ke sosok di belakang tubuh Dave.
Dave membalikan tubuhnya dan melihat sosok Ryan disana, sepasang sayap putih membingkai punggungnya. Ia menyeringai, menjentikan jarinya mengeluarkan api, lama-lama semakin besar membentuk bola api.
“Kau….”
“Ya, sayapku sudah lengkap, kekuatanku sudah pulih”
Ryan melemparkan bola api itu ke arah Dave dan Keira. Keira menjerit.  Dave melindungi tubuh Keira. keduanya terlempar ke tanah. Punggung Dave terbakar, dan dengan kekuatan yang dimilikinya ia mengepakan sayapnya yang hanya sebelah, melindungi Keira dari serbuan bola api itu.

Keira tak sadarkan diri..

***

“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak…, tentang Dave” kata Ryan didepan rumah tua itu.
“Kenapa dengan Dave?”
“Kei.. Dave, adalah seorang malaikat”
“Apa maksudmu?”
“Dave adalah malaikat Kei, aku juga” Ryan menghela nafas.
“Benarkah? Aku tidak percaya, Apa karena itu.. ”
“Ya, karena itu Kei, kau mau lihat buktinya? masuk ke dalam bersamaku” Kei menurut tanpa sadar ketika Ryan menarik tangannya masuk ke dalam rumah tua itu.
Kei menurut juga ketika Ryan menyuruhnya duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan??” jerit Keira ketika Ryan membuka bajunya.
“Shh.. lihat saja” Ryan berdiri memunggungi Keira.
Tak lama Keira menjerit sambil menutup matanya ketika melihat sesuatu tiba-tiba melesak keluar dari punggung Ryan,  sayap putih seperti kapas mengelepak perlahan, hanya sebelah.
“Jangan takut Kei..”
“Is it real Ryan?” Keira perlahan membuka matanya.
“Kau boleh menyentuhnya”
Keira pun maju, menyentuh bulu-bulu halus dari sayap itu. Keira berteriak ketika tiba-tiba tato ditangannya terasa seperti terbakar., Keira langsung menarik kembali tangannya.
“It’s real.. mengapa hanya sebelah?”

***

“Kei.. Kei.. bangun Kei..”
“Mhhh…” Kei berusaha membuka matanya, tapi ia tak sanggup

***

“Dave juga malaikat?”
“Yes, he is.. hanya saja..”
“Hanya saja?”
“Dave is a fallen angel, Kei. Dia jatuh dalam dosa”
“Ha? apa maksudmu? dia jahat?”
Ryan mengangguk lemah.
“Tato sayap di tanganmu, dia mengikatmu Kei.. , karena itu kau harus menghapusnya”
“Mengikatku?”
“Ya, dia tidak akan melepasmu seumur hidupmu, kau akan menjadi korbannya”
“Uh.. lalu bagaimana aku bisa melepaskan diri dari Dave?”
“Aku bisa membantumu asal kau bersedia, tato mu harus ku hapus”
Keira menyodorkan tangannya pada Ryan.

***

Kei, dimana kau, tato ditanganku sudah tak tertahankan lagi, rasanya seperti terbakar. Aku tak bisa mencarimu kemana-mana Kei.. apa yang terjadi padamu?. Siapa iblis yang mengganggumu Kei.. Kau dimana???!! Bagaimana kau bisa berada sedekat itu dengan iblis?? Berhati-hatilah Kei..

***

“Kau yakin mau bersamaku Kei? hidupku berbahaya..”
“Tak apa, aku akan menjagamu” kata Keira.
Dave tertawa.
“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” Dave mulai melukiskan gambar sayap di pergelangan tangan Keira.

***

“Kei..  bangun .. ”
Keira masih terbaring di tanah. Ia merasa ada yang menyentuh pipinya. Ia membuka matanya, tapi terhalang oleh sesuatu yang lembut dan hangat, sesuatu menyelimutinya
“Apa .. Dave, apa yang terjadi?”
“Kei.. aku sudah berjanji akan melindungimu”
Keira menyadari, sayap Dave yang menyelimutinya.

“Dave sudahlah, kau tak bisa melindunginya terus menerus. Keira sudah memberikan sayapnya padaku, selamatkan dirimu, biarkan dia mati, atau kau yang mati. Ingat, sayapmu tinggal sebelah”teriak Ryan

“Tidak! Tidak akan!”
“Kau tau resikonya Dave” Ryan mulai tertawa

“Kei.. pejamkan matamu ”
Dave mengusap lembut pergelangan tangan Keira
“Tidurlah.. tidurlah Kei, aku akan selalu menjagamu”
Perlahan Keira terlelap..

***

Keira menatap keluar cafe, dingin. Sebulan telah berlalu sejak Keira ditemukan pingsan disebuah taman kota, dengan sebuah tato di pergelangan tangan kanannya. Diusapnya tato bergambar sayap itu perlahan. Gambar separuh sayap yang terkoyak.

“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” 

***

“Kalau jalan hati-hati dong!!”
“Uh.. maaf” kata pemuda yang baru saja menabrak Keira sehingga kopi panas yang dibawanya tumpah mengenai pergelangan tangannya.
“Biar kubersihkan” pemuda itu menarik ujung kaos nya dan mulai mengelap pergelangan tangan Keira. Keira membiarkannya.
“Sayapnya kok terkoyak?” tanya pemuda itu, mengelap percikan kopi di atas tato itu.
Ia memperhatikan gerakan pemuda itu yang mengelap pergelangan tangannya dengan hati-hati.
“Pergelangan tanganmu yang bertato ini pernah berasa sakit? Aku bisa menghapusnya kalau kau mau”

I wake up and I see the face of the devil, and I ask him, “What time is it?”
And he says, 
“How much time do you want?” 
(Diamanda Galas, The Shit of God)

“Tato ini tidak pernah terasa sakit lagi, karena pasanganya sudah berada disurga” Keira tersenyum menatap wajah pemuda itu, lalu melihat tato sayap yang hanya sebelah di lengan pemuda itu.

“Siapa namamu?”
Keira melangkah pergi, menjauhi pemuda itu.Di usapnya tato di  pergelangan tangannya. Keira menengadah ke langit, memandangi awan yang seputih salju, seperti sayap Dave.

Kali ini tak akan kubiarkan siapapun menghapusnya Dave, karena kau mengorbankan nyawamu untuk selalu melindungiku. 

“in another life, i would be your girl. We keep all our promises, be us against the world. 
In other life i would make you stay, so i don’t have to say you were the one that got away”

inspired by Katy Perry’s video clip – The one that got away

Advertisements

Trattoira Lafiandra

Lokasi  penulisan :  Dome Cafe @ Singapore Art Museum SIngapore

Waktu : 12 January 2014.  Pukul 15.18 – 17. 38 

(Today’s menu : Chocolate Lava with Gelato and ice latte without sugar)

Trattoria Lafiandra, nama itu tercetak di papan petunjuk arah di bagian samping museum itu. Mungkin dari sana namanya berasal. Artinya? Andra sendiri tidak tau. Ia berjanji akan mencari tahu nanti, tidak sekarang. Sekarang Andra hanya ingin berjalan-jalan, menikmati udara segar serta tempat baru yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. 

“Nona” Andra menoleh saat seseorang memanggilnya. 

“Ya?” dilihatnya seorang pria paruh baya dengan berkemeja putih membawa menawarkan brosur, Andra pun menerimanya tanpa minat.

“Mau masuk kedalam? nona harus beli tiket dulu di konter. Pria itu menunjuk sebuah pintu. 

“Tidak terima kasih pak, lain kali saja” 

Biarpun saat ini ia menikmati suasana di sekitar museum, tapi belum ada keinginan dirinya untuk masuk kedalamnya. 

Andra memiliki sedikit minat untuk seni, dia berharap dia lebih berdarah seni dan bisa mengerti arti lukisan-lukisan orang terkenal yang mempunyai makna tertentu. Dia berharap dia bisa membuat sesuatu yang indah yang dapat dinikmati banyak orang, tapi sepertinya itu bagai mimpi disiang bolong. Ayah dan ibunya pun tidak membantuk karena tidak meneteskan setitikpun darah seni kedalam tubuhnya. Sejauh yang Andra tahu, tidak ada satupun dari saudaranya yang menjadi pekerja seni, paling banter hanya bisa main gitar.  Makanya Andra sangat heran saat menemukan namanya tertulis di Museum seni ini, berarti namanya berkaitan dengan seni, atau mungkin mama papanya berharap anaknya bisa membuat karya seni, entahnya. Mungkin ia akan menanyakan pada papa mamanya nanti. 

Andra akhirnya menghentikan perjalanannya yang tidak menentu dan berlabuh di Dome Cafe, memesan Chocolate Lava with Gelato dan Ice Latte, without sugar. mengambil tempat dihalaman luar karena didalam terlalu ramai. Andra duduk menikmati pesanannya, menikmati suasana favoritenya, suasana sesudah hujan, angin yang bertiup masih dingin kadang membuat bulu kuduknya merinding, Bajunya yang tipis tidak sanggup menahan alirannya. Andra menyeruput Lattenya sambil memandangi papan petunjuk arah yang memuat namanya, yang terlihat jelas dari tempat dia duduk. Angin sepoi menyapu matanya hingga perlahan-lahan menutup.

—-

“Sofia, tak perlu memasak lagi” mamaknya melongok dengan kesal ke dalam dapur, memandangi putrinya yang sedang berperang didapur, wajahnya berlukiskan tepung yang tersebar kemana-mana. 

“Ya mamak, satu kali saja, Sofia pasti bisa membuat pasta yang enak” Sofia menyeka pipinya, menambah riasan tepung di wajahnya.

“Beli saja lah pastanya, baru kamu yang siapkan bumbu. atau beli saja bumbu instant, sudah pasti enak”

“tidak mama, Sofia ingin membuatnya sendiri. Mama harus yakin, Sofia pasti bisa, kan Sofia punya mamak yang pandai masak” 

“Tapi mamak tak pandai masak pasta dari italy, mamak hanya pandai masak pasta dari asia namanya mie goreng” mamak pun menyerah membiarkan putrinya memporak porandakan dapurnya, sekali lagi, dan lagi dan lagi. 

“Hello Signora, come stai?” 

“Sto bene. grazie. Aku membuatkanmu pasta lagi, cobalah, semoga kali ini lebih enak” Sofia menyuguhkan sepiring aglio olio masih hangat kepaa suaminya. 

“Grazie Sofia, kau tak perlu repot-repot membuatnya” Carlo menerima bungkusan itu dengan tersenyum. Dalam hatinya ia terkesan dengan gadis manis dihadapannya, yang tidak pernah menyerah pada keinginannya membuatkan pasta yang lezat. Ini sudah ke empat, tunggu, lima kalinya Sofia memasakan eksperimen pasta untuknya. 

“Tak merepotkan kok. Aku senang, aku ingin kamu bisa merasakan pasta yang enak disini, jadi kamu bisa mengobati sedikit rasa rindumu pada Italy. Sofia tersenyum. Carlo menatap mata wanita pujaanya dalam-dalam. Dulu ia pernah meragu untuk meneruskan bisnisnya di negara ini, tapi tidak setelah ia bertemu Sofia dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulit gelap eksotisnya, lesung pipinya, giginya yang bergingsul yang membuatnya bertambah manis saat tersenyum. Semuanya dirangkum dalam suatu wajah berbentuk sempurna, ditambah mata bulat biru yang bersinar-sinar, dan hidung mancung yang tidak semestinya ada disana. Tapi ada disana karena tetesan darah neneknya seorang Belanda, dan yang memberinya nama tengah Sofia, lengkapnya Ni Luh Sofia Margaretha, seorang gadis Bali dengan tetesan darah Belanda yang kini menetap bersamanya dan mamaknya di negara Singapura.

“Grazie amore mio” 

Sofiia tersenyum. 

“Bagaimana rasanya?” 

Enak sekali, al dante” Carlo menghabiskan pastanya, pasta ala Asia yang dibuat dengan penuh cinta. 

“Aku tak percaya, katakan padaku yang sesungguhkan, apakan itu sudah mirip dengan pasta Italia?” 

Carlo berpikir. Lalu tersenyum, memandang mata wanita pujaannya yang menatapnya penuh harap. 

“Bella mia, aku akan katakan sejujurnya. Pasta ini lebih berasa Asia daripada Italia” Carlo masih tersenyum memandang wajah Sofia yang berubah kecewa. 

“Tapi pasta ini sangat enak, bahkan lebih enak daripada pasta Italia, kau tahu kenapa?” ucapnya lagi. Sofia menggeleng, masih kecewa. 

“Karena aku tahu, pasta ini dibuat dengan penuh cinta” Carlo mengecup lembut bibir merah Sofia yang berubah dari kecewa menjadi senyum. Dibalasnya kecup itu. 

Sudah hampir 2 tahun Sofia menikah dengan Carlo, sang pengusaha rempah-rempah  dari Italia. Dan Sofia masih terus mencoba membuat pasta rasa Italia setiap hari sabtu untuk suaminya. Carlo membiarkan istrinya mencoba berbagai-bagai macam resep pasta, dari yang lumayan sampai yang rasanya benar-benar unik, kalau tidak mau disebut aneh karena terkadang bumbu-bumbunya itambah dengan rempah-rempah dari Bali, atau rempah-rempah china atau asia lainnya. 

“Bella mia, Sabtu ini tidak usah memasakkan aku pasta, aku ingin membawamu ke suatu tempat untuk merayakan ulangtahun perkawinan kita yang ke 2” 

Maka hari itu Sofia sudah berdandan dengan cantik, gaun satin berwarna gading dengan payung rendanya, Carlo menjemputnya dengan tuxedo hitam. Kereta kuda sudah menanti mereka didepan rumah. Kereta kuda pun melaju, Carlo dan Sofia menyapa Shi Lin, gadis tetangga yang mengenakan cheongsam dengan kain merah berbunga kuning yang berjalan dengan kekasihnya. 

“Kita kemana?” tanya Sofia.

“nanti bella mia tahu sendiri, nikmati saja perjalanannya” Sofia pun menurut. Memandang indahnya kota, memandang selat didepan gedung Fullerton. Tangan kirinya digenggam erat oleh suaminya sementara tangan kanannya menahan gaunnya agar tak berkibar. 

“Kita sudah sampai bella mia” Carlo menuntunnya turun. Sofia memandang sekelilingnya.

“Aku tidak tahu kau suka seni, Carlo sayang” 

“Aku memang kurang suka seni, dan aku tidak punya darah seni” 

“Sejujurnya Carlo, aku tidak sepenuhnya mengerti tentang seni”perkataan jujur Sofia membuat Carlo terbahak. 

“Kau pikir aku mengerti?” kali ini Sofia yang terbahak. 

“Bukan itu tujuanku berada disini bella mia” Carlo mengandeng tangan Sofia yang dibalut dengan sarung tangan putih”

“Ini dia” mereka berdiri ditempat dengan papan nama terpampang bertuliskan “Trattoria Lafiandra” 

“Ini?” Sofia melongok ke dalam. 

“Ini adalah sebuah restaurant italia., mari kita masuk” mereka pun mengikuti seorang pelayan yang menunjukan mereka meja. 

“Dulu aku sering kesini, saat kangen makanan Italia” kata Carlos sambil membolak balik menu didepannya. 

“Kapan terakhir kali kamu pergi kesini?” 

“Sudah lama, sebelum kita menikah, bella mia” 

“Lalu, kenapa tidak pernah kesini lagi sesudah kita menikah? Dan apakah kamu mengajakku kesini agar aku bisa merasakan rasa Italia itu seperti apa? sehingga aku bisa memperbaiki rasa pasta yang kubuat kah?” Carlos terbahak. 

“TIdak bela mia, Karena aku terlalu menikmati hidupku denganmu, dan aku merasa hidupku bukan lagi rasa Italia. Hidupku kini percampuran rasa Italia, Bali Indonesia dan Singapura, dengan bumbu cinta. Aku tidak lagi perlu rasa Italia untuk membuatku bahagia, karena aku sudah punya engkau” 

Sofia tersenyum. 

“Lalu, mengapa tiba-tiba engkau mengajakku kesini?” 

“Aku ingin membawa engkau merasakan rasa Italia bersama dengan aku, karena kalau aku tidak bersama dengan engkau, bahkan rasa Italia pun menjadi tidak enak lagi bagiku” 

Sofia tersenyum, cinta nya semakin besar kepada suaminya.

“Kalau kita punya anak perempuan nanti, aku akan memberinya nama Lafiandra. Karena ditempat ini aku merasakan betapa beruntungnya aku mendapatkan engkau, dan rasa cintaku bertambah kepada engkau” 

—-

Cipratan air menghentak Andra, ia pun terbangun dari tidurnya. Rupanya udara yang sejuk telah membuatnya tertidur bangku-bangku di Cafe itu. Hujan rupanya. Ia segera membereskan barangnya,  membayar pesanannya. Lalu pulang. 

— 

Dirumah, sesudah mandi dan mencuci rambutnya, Andra menemukan mamanya sedang membuat makan malam. 

“mom Andra mau tanya dong”

“Tanya apa nak?” 

“Siapa yang kasih nama Andra mom?”

“Oma Sofie yang kasih, kenapa?”

“Kenapa bukan papa dan mama yang kasih nama Andra?”

Waktu dulu, papa mu cerita. Kalau mamanya, oma Sofie, ingin memberikan nama Lafiandra kalau beliau punya anak perempuan, namun ternyata oma Sofie dan Opa Carlos hanya mempunyai anak laki-laki. Karena itu papa akhirnya memberi nama kamu sesuai dengan apa yang oma mau”

“Mom tau kenapa oma memberi nama Lafiandra?’

“umm mom tidak tahu, papamu juga pernah bertanya tapi tidak diberi tahu.  Kenapa Andra tiba-tiba tanya tentang nama Andra? Andra tidak suka?” 

“Suka sekali ma” jawab Andra tersenyum. 

Suka sekali, terutama karena Andra mengetahui ternyata namanya bukan hanya sekedar nama Restaurant, tapi ada makna yang romantis dan penuh cinta didalamnya. Dan itu menjadi rahasia Andra dengan almarhum Oma Sofie yang didapatnya melalui mimpi 🙂 

Lain kali, ia akan mencobanya. Trattoira Lafiandra . 

*cerita ini hanya fiksi belaka, tidak sesuai dengan sejarah dan waktu. 

*The trattoira/ restaurant is a real place, you can find it at Trattoira Lafiandra

*Lava cake with gelato is so so, ice latte is quite nice 🙂 

* Location : Singapore Art Museum

Nyonya Marie Van der Berg

Nyonya Van der Berg, yang bernama gadis Marie, dalam usianya yang sudah melewati enam puluh tahun, tubuhnya masih tetap ramping seperti saat masih remaja. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dirinya.

Marie rela mengajak keluar dan mentraktir teman-teman lamanya hanya untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya. Dan lagi dan lagi, sesuai dengan apa yang Marie harapkan, Marie selalu mendapatkan bahwa teman-teman nya yang dulu ramping kini sudah mengembang dengan lemak bergelambir di beberapa bagian tubuh mereka, terutama perut.
Ini karena melahirkan, kata temannya. Tapi mereka tak bisa membela diri terlalu banyak karena Marie yang berbadan ramping berperut rata itu sudah melahirkan empat orang anak.

Hari ini merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Marie. Hari pertemuan dengan teman-teman lamanya. Marie sudah mengatur agar mereka mengadakan pertemuan sebulan sekali, dengan alasan untuk menjaga tali persahabatan agar tidak terputus begitu saja. Tentu saja, Marie yang akan membayar semua biaya dari pengeluaran itu.

Benar saja, sekali lagi Marie menjadi pusat perhatian di pertemuan yang terdiri dari enam orang itu. Karena entah bagaimana, Marie selalu berhasil membawa topik tentang berat badan ke dalam pertemuan itu. Dan tak bosan-bosannya, temannya berusaha mendapat sedikit resep untuk mendapatkan tubuh langsing.
“Aku heran bagaimana badanmu bisa tetap langsing setelah melahirkan beberapa anak”
“Suamimu tentu sangat bangga dan bahagia memiliki istri yang bertubuh langsing”
“Beri kami tips untuk bisa langsing sepertimu Marie”
Pertanyaan beruntun dari teman-temannya itu tentu saja membuat Marie lebih merasa bersemangat lagi.
“Kalian harus berpikir betapa menyedihkan hidup kalian. Kau, Amber dan Gina, suamimu menceraikanmu. Jika tubuhmu langsing dan menarik, tentu dia tak akan meninggalkanmu. Lihat saja suamiku, mana mungkin dia meninggalkan aku. Dia pasti bangga sekali terhadapku. Dan aku tidak pelit, akan kuberi tahu bagaimana menjaga tubuh agar tetap langsing. Rahasianya ada di piring kita masing-masing.Coba lihat apa yang ada di piring kalian, dan lihat apa yang ada di piringku” Marie memandang jijik ke piring teman-temannya yang berisi daging steak berlemak. Di lain pihak teman Marie memandang tanpa napsu pada isi piring Marie yang hanya berisi salad tanpa dressing dan buah potong.
Lalu Marie seperti biasa menceramahi teman-temannya tentang gaya hidup sehat, teman-teman Marie mendengarkan dengan seksama, memandang Marie tanpa kedip sambil menyuapkan potongan-potongan daging dan puding-puding coklat ke mulut mereka.

Pertemuan berakhir, dengan bangga Marie melenggang meninggalkan teman-temannya. Menaiki taksi pertama yang berhenti di hadapan mereka. Sepeninggalan Marie, teman-temannya yang pulang bersama berjalan kaki menuju halte bis.

“Selalu saja, Marie selalu membicarakan berat badan dan mencemooh kita karena kita tidak bisa ramping seperti dia. Aku muak sekali mendengarnya”
“Betul, Marie salalu membicarakan topik berat badan setiap pertemuan. Aku merasa seperti orang bodoh saja. Lagipula, siapa yang mau tubuh kerempeng seperti dia? aku lebih suka tubuhku biarpun aku gendut tapi tapi sexy”
“betul, dan payudaramu besar” kata salah satu dari mereka yang disambut tawa riuh oleh yang lain.
“Dan seenaknya saja dia bicara suamiku meninggalkanku karena bentuk badanku, padahal aku yang meninggalkannya karena dia tukang mabuk”
“Kalau bukan untuk makanan enak dan gratis sebulan sekali, aku tak sudi bertemu Marie lagi”
“Betul, aku juga”
“Eh kau tau, aku dengar suami Marie ada main dengan wanita dari kota sebelah”
“ya aku pun mendengar gosipnya, dan kabarnya wanita itu bertubuh montok”
“itu bukan gosip, aku melihatnya sendiri suami Marie bercumbu dengan wanita montok dibelakang bar tempatku bekerja”
“Marie yang malang..”
“kukira aku akan tetap menghadiri undangannya”
“ya aku juga.. Marie yang malang..”
sayup-sayup suara mereka menghilang seiring dengan semakin jauhnya mereka berjalan.