One More Chance

blogger-image--1187750399

2013 sudah berlalu, Gina merenunngi apa yang sudah berlalu, membiarkan ingatannya mengembara ke tahun lalu, dan selalu, berpusat pada satu titik. Jason.

Betapa kehilangannya merupakan suatu yang membuat setengah tahun hidupnya kelam, perasaan sedih yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Bahkan lebih sedih daripada ketika Gina kehilangan kakek tercintanya.

“Joe, kenapa? aku gak mau putus. kita udah bersama-sama sekian lama, apa segampang itu buat kamu putus sama aku Joe?
“Sorry Gin, nanti gue ngomong lagi sama lo ya, gue ada perlu” Joe pun pergi meninggalkan Gina di sebuah cafe kecil. Joe pergi ditengah rintik hujan. Gina terdiam, ia tau, harapannya untuk membuat Joe seperti dulu lagi hilang sudah. Joe benar-benar sudah berubah, seratus delapan puluh derajat. Joe yang sekarang, Gina tidak pernah kenal.

Sejak hari itu, Gina tidak pernah mencari Joe lagi. Dan seperti yang ia duga, Joe juga tidak pernah mencarinya.
2 bulan setelah itu merupakan saat dimana Gina harus mengambil keputusan terbesar dari hidupnya. Bukan hanya karena dia harus meninggalkan pekerjaannya, kota tempat dia bekerja, bahkan juga orang tuanya. Gina memilih tinggal dengan neneknya di kampung, dimana jarang sekali orang yang kenal dengan Gina.
Keputusan yang sempat menjadi pro dan kontra dalam keluarganya, namun akhirnya mereka mau menerima dan mensupport Gina. Akhirnya mereka membekali Gina dengan seorang pembantu, untuk membantu pekerjaan rumah sehari-harinya di rumah nenek. Bulan bulan berikutnya, Gina dapat merasakan kedamaian, hidup damai dikampung dengan Jason, nenek dan pembantunya selama 5 bulan lamanya, sampai Jason meninggalkannya. Dan kali ini bukan hanya Gina yang pindah ke rumah neneknya, tapi juga mama Gina berkeras untuk tinggal bersama Gina.

2013 sudah berlalu. 2014 telah datang. Gina termenung di kamarnya yang senyap. Pagi baru merayap dan bau embun menyelusup ke hidupngnya. Segar..

Telepon genggamnya kembali bergetar, terus tak berhenti sejak semalam. Telepon dan pesan masuk, Gina tau siapa yang tak berhenti mencarinya.

Pintu kamarnya dibuka, mama Gina melongok dari kamar membawa segalas susu hangat.
“Pagi sayang” katanya sambil masuk dan tersenyum, meletakan gelas susu di meja belajar.
“Pagi mama” ucap Gina dengan ceria, senyumnya merekah di wajahnya. Gina mengulurkan kedua tangannya kepada mamanya, mamanya menyambutnya, memeluk putri kesayangannya dan mengecup dahinya. Putri kesayangannya telah kembali, ia bahagia.

“Mama tau siapa yang terus meneleponku sejak semalam?”
“siapa nak?”
“Joe”
“Gina sudah bicara dengan Joe?” Gina memandang mamanya sambil tersenyum.
“sepertinya dia sudah tau”
“Apa yang Gina pikirkan sekarang?” mama memandang Gina sambil mengelus-elus rambutnya.
“Gina pikir, mungkin Joe perlu tau yang sebenarnya dari aku langsung, bukan dari orang lain”
“Kalau menurut Gina itu yang terbaik, mama dukung Gina”
Gina tersenyum, diraihnya telepon genggamnya.

Cafe kecil, tempat terakhir ia melihat Joe sebelum Joe meninggalkannya dan tidak pernah kembali lagi. Hari ini tidak dengan rintik, tapi hujan lebat mengguyur kota itu.
Gina masuk ke dalam cafe itu, melipat payungnya yang basah dan meletakannya di pojok ruangan. Seseorang menyambutnya.
“Hai Joe” Gina tersenyum.
“Hai” ucap Joe berusaha tersenyum. lalu membimbing Gina ke meja di sudut ruangan. Joe terlihat banyak berubah. Terlihat lelah, atau lebih dewasa? Gina tak bisa membedakannya. Mereka memesan minuman lalu terdiam sampai pesanan mereka datang.

“Apa kabar?” tanya Gina sambil mengaduk coklat panasnya.
“Aku… sepertinya baik”
“Sepertinya baik? jawaban macam apa itu Joe?” sahut Gina sambil tertawa. Joe pun tertawa.
“Gina apa kabar?”
“Baik” Gina tersenyum.
“Gin, apa benar..?”
“Benar Joe” sahut Gina sambil tetap tersenyum.
“Kamu gak apa-apa Gin?”
Gina menghela napas.
“Joe, hidup manusia itu gak sempurna. Selalu saja ada masa-masa sedih, ada masa-masa senang. Dan ada masa dimana kita benar-benar jatuh. Tapi semuanya itu memang harus dilewati. Hidup memang seperti itu. Dan biarpun itu teramat sulit, namun berjalan seiring waktu, masa-masa itu pasti berlalu, dan terus berganti”
“Dan apa yang sudah berlalu biarlah menjadi memory, aku berusaha mengingatnya sebagai kenangan yang membahagiakan, meskipun saat itu aku cukup frustasi”
“Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu aku Gin?”
“umm.. aku tak ingin mengikat kamu dengan hal ini Joe, kalau terpaksa, kita berdua tak akan bahagia”
“Maafkan aku Gina, maafkan aku karena telah meninggalkanmu, dan membiarkanmu melewati hal yang berat ini sendirian” Joe menggengam jemari Gina.
“Tak apa, tak perlu minta maaf untuk apa yang sudah terjadi Joe. Aku bahagia dengan kehadiran Jason, biarpun aku harus kehilangan dia lagi. Dan itu merupakan pukulan yang berat buat aku. Tapi aku pernah memilikinya, dan aku bahagia” Gina menyeka airmata yang jatuh di sudut matanya. Joe terdiam.
“Namanya Jason?” tanya Joe perlahan. Gina memandang Joe.
“Ya, namanya Jason” sahut Gina tertawa.
“Nama yang bagus, dia pasti tampan seperti aku” sahut Joe, membuat Gina tergelak.
“Tentu saja tampan, tapi dia tak akan membuat kekasihnya patah hati” sahut Gina tergelak. Joe tertawa lalu memandang Gina dengan serius.
“Gina, what can i do to make it up to you? i miss you more than you ever know, baby” Joe memandang Gina dengan lembut dan dalam, Gina mencari kebenarannya disana. Dan dia melihatnya disana, Gina menemukan Joe yang dulu, Joe yang Gina kenal.
“Call me stupid, but yes i miss you so much too. And i’m gonna give you one more chance” Gina memeluk Joe dengan erat. Joe mengelus perut Gina, ingin merasakan tempat dimana putranya pernah tinggal selama 7 bulan.
“Marry me Gina, please” kata Joe dengan pandangan memohon.
Gina tersenyum bahagia.

Advertisements

Nyonya Marie

Nyonya Van der Berg, yang bernama gadis Marie, dalam usianya yang sudah melewati enam puluh tahun, tubuhnya masih tetap ramping seperti saat masih remaja. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dirinya.

Marie rela mengajak keluar dan mentraktir teman-teman lamanya hanya untuk melihat bentuk tubuhnya. Dan lagi dan lagi, sesuai dengan apa yang Marie harapkan, Marie selalu mendapatkan bahwa teman-teman nya yang dulu ramping kini sudah mengembang dengan lemak bergelambir di beberapa bagian tubuh mereka, terutama perut.
Ini karena melahirkan, kata temannya. Tapi mereka tak bisa membela diri terlalu banyak karena Marie yang berbadan ramping berperut rata itu sudah melahirkan empat orang anak.

Hari ini merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Marie. Hari pertemuan dengan teman-teman lamanya. Marie sudah mengatur agar mereka mengadakan pertemuan sebulan sekali, dengan alasan untuk menjaga tali persahabatan agar tidak terputus begitu saja. Tentu saja, Marie yang akan membayar semua biaya dari pengeluaran itu.

Benar saja, sekali lagi Marie menjadi pusat perhatian di pertemuan yang terdiri dari enam orang itu. Karena entah bagaimana, Marie selalu berhasil membawa topik tentang berat badan ke dalam pertemuan itu. Dan tak bosan-bosannya, temannya berusaha mendapat sedikit resep untuk mendapatkan tubuh langsing.
“Aku heran bagaimana badanmu bisa tetap langsing setelah melahirkan beberapa anak”
“Suamimu tentu sangat bangga dan bahagia memiliki istri yang bertubuh langsing”
“Beri kami tips untuk bisa langsing sepertimu Marie”
Pertanyaan beruntun dari teman-temannya itu tentu saja membuat Marie lebih merasa bersemangat lagi.
“Kalian harus berpikir betapa menyedihkan hidup kalian. Kau, Amber dan Gina, suamimu menceraikanmu. Jika tubuhmu langsing dan menarik, tentu dia tak akan meninggalkanmu. Lihat saja suamiku, mana mungkin dia meninggalkan aku. Dia pasti bangga sekali terhadapku. Dan aku tidak pelit, akan kuberi tahu bagaimana menjaga tubuh agar tetap langsing. Rahasianya ada di piring kita masing-masing.Coba lihat apa yang ada di piring kalian, dan lihat apa yang ada di piringku” Marie memandang jijik ke piring teman-temannya yang berisi daging steak berlemak. Di lain pihak teman Marie memandang tanpa napsu pada isi piring Marie yang hanya berisi salad tanpa dressing dan buah potong.
Lalu Marie seperti biasa menceramahi teman-temannya tentang gaya hidup sehat, teman-teman Marie mendengarkan dengan seksama, memandang Marie tanpa kedip sambil menyuapkan potongan-potongan daging dan puding-puding coklat ke mulut mereka.

Pertemuan berakhir, dengan bangga Marie melenggang meninggalkan teman-temannya. Menaiki taksi pertama yang berhenti di hadapan mereka. Sepeninggalan Marie, teman-temannya yang pulang bersama berjalan kaki.

“Selalu saja, Marie selalu membicarakan berat badan dan mencemooh kita karena kita tidak bisa ramping seperti dia. Aku muak sekali mendengarnya”
“Betul, Marie salalu membicarakan topik berat badan setiap pertemuan. Aku merasa seperti orang bodoh saja. Lagipula, siapa yang mau tubuh kerempeng seperti dia? aku lebih suka tubuhku biarpun aku gendut tapi tapi sexy”
“betul, dan payudaramu besar” kata salah satu dari mereka yang disambut tawa riuh oleh yang lain.
“Dan seenaknya saja dia bicara suamiku meninggalkanku karena bentuk badanku, padahal aku yang meninggalkannya karena dia tukang mabuk”
“Kalau bukan untuk makanan enak dan gratis sebulan sekali, aku tak sudi bertemu Marie lagi”
“Betul, aku juga”
“Eh kau tau, aku dengar suami Marie ada main dengan wanita dari kota sebelah”
“ya aku pun mendengar gosipnya, dan kabarnya wanita itu bertubuh montok”
“itu bukan gosip, aku melihatnya sendiri suami Marie bercumbu dengan wanita montok dibelakang bar tempatku bekerja”
“Marie yang malang..”
“kukira aku akan tetap menghadiri undangannya”
“ya.. Marie yang malang..”
sayup-sayup suara mereka menghilang seiring dengan semakin jauhnya mereka berjalan.

Sang Pengantar Paket

Seorang pengantar paket yang baru sehari bekerja, bertugas mengantarkan sebuah paket berupa sebuah kotak. Bosnya bilang, akan ada paket serupa setiap hari, harus dikirimkan ke tempat yang sama dari Senin sampai Jumat, pada waktu yang sama pula. Bos nya bilang, penerima paket ini bersedia membayar sangat tinggi, sehingga bos sang pengantar paket mampu mempekerjakan sang pengantar paket baru ini.

Sang pengantar paket tersebut berjalan menuju sebuah gedung megah bertingkat. Ditangannya digenggamnya kotak itu dengan hati-hati, ia berjalan alamat yang tertera di kotak tersebut :

Untuk : Mr X
Alamat : Perusahaan Y
Jabatan : Direktur
No telp : xxxxxxxxxx
Note : tolong paket ini diberikan langsung kepada Mr X sebelum jam 1 siang, karena paket ini sangat penting. Bawalah paket ini dengan hati-hati.

Sesampainya digedung tersebut, sang pengantar paket berhenti di lobi lalu memindahkan paket itu ke tangan kirinya. Ia mengambil hp nya lalu menekan nomor telepon yang tertera di kotak tersebut.

“Halo” sebuah suara berat menyambutnya.
“Halo, dengan Mr X dari perusahaan Y?”
“ya ya betul sekali, anda siapa?”
“Saya sang pengantar paket, saya membawa sebuah paket yang harus saya serahkan langsung kepada mister”
“Baiklah, apakah anda dilobi?”
“Ya saya di lobi, dekat resepsionis”
“Oke oke, tunggu sebentar saya akan turun mengambil paket itu”
“Baik, terima kasih mister”
Telepon ditutup.

Lima menit berlalu sejak telepon itu ditutup. Sang pengantar paket melihat jam tangannya, pukul 12.40. Masih aman, dia bisa memberikan paket ini sebelum batas waktunya.
Sang pengantar paket memandang kagum pada interior megah kantor tersebut. Tentu saja, ini adalah kantor bonafid. Lihat saja, orang-orang yang berlalu lalang disini, yang tentunya adalah karwayannya, mereka terlihat sangat profesioal. Wanita-wanitanya terlihat segar dan cemerlang, tak ada yang tak menggunakan make up. Dan mereka menggunakan pakaian indah yang untuk ukuran sang pengantar paket, pakaian itu seharusnya dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan, atau lebih pantas dikenakan seorang artis atau penyanyi pada saat mereka sedang konser. Lengkap dengan sepatu berukuran tinggi, sang pengantar paket yang dulu sering merasakan sabetan sandal ibunya kalau merasa ngilu melihat betapa runcingnya hak-hak sepatu itu. Pria-prianya tidak ada yang mengenakan kaos oblong seperti dirinya. Semuanya mengenakan kemeja, berdasi lagi, dan banyak lagi yang berjas. Sepatu hitam mengkilat seperti yang sering ia lihat di iklan semir sepatu. Mungkin mereka menggunakan semir sepatu itu. Sang pengantar paket memandang kebawah, melihat sepatunya yang kusam. Ia berjanji akan membeli semir sepatu itu kalau sudah mendapat gajinya.

Ruangan sejuk berAC membuat sang pengantar paket merasa rileks dan betah. Sang pengantar paket membayangkan kantornya yang pengap. Bukan tidak ada AC, tapi satu-satunya AC diruangan besar dikantornya yang dihuni sekitar 10 orang itu rusak. Dan saat bosnya mewawancarai sang pengantar paket, bosnya bilang kalau kantornya tidak memerlukan AC. AC hanya akan menghilangkan aroma kerja keras dikantor tersebut (yang akhirnya disadari sang pengantar paket tadi pagi dikantornya, bahwa aroma kerja keras itu adalah bau pengap bercampur keringat yang tercium begitu ia memasuki kantornya).

Sepuluh menit berlalu, sang pengantar paket masih di lobi, menunggu sang empunya paket yang tak kunjung datang. Ruangan sejuk itu berubah menjadi seperti dalam kulkas, sang pengantar paket yang tak biasa dengan dinginnya AC mulai merasa kedinginan. Rasa dingin itu menjalar masuk ke kulitnya, masuk ke perutnya, menekan isinya perutnya. Dan tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu dalam tubuhnya, hal yang paling tidak dia inginkan saat ini, saat ia sedang bekerja. Tapi rasa itu semakin kuat, ya, dia merasa ingin buang hajat.

Kemana Mr X? kenapa membuatnya menunggu begitu lama? Sang pengantar paket menekan kembali nomor telepon Mr X, tapi kali ini teleponnya tidak diangkat. Ketenangannya hilang sudah, kini ia menjadi gelisah. Ia merapatkan kakinya menahan hajatnya yang sudah ingin keluar.

Mentang-mentang seorang direktur, apa bisa dia seenaknya membuat orang menunggu sedemikian lama? Benar-benar tidak menghargai orang. Apa Mr X pikir, pekerjaan pengantar paket itu tidak penting? Sang pengantar paket memaki direktur itu dalam hati. Ditekan-tekannya perutnya yang bergejolak.

Direktur sialan, mentang-mentang dia orang hebat. Apalah gunanya seorang direktur dibandingan pengantar paket yang bekerja kesana kemari agar paket-paket bisa terkirim ke tempat tujuannya pada waktunya? Direktur kerjanya hanya duduk-duduk saja, membiarkan orang menunggu lama, tanpa memikirkan orang lain. Apa hebatnya dia? Sialan!

Benar-benar tak bisa dibandingkan! Pengantar paket adalah pekerjaan mulia. Dunia akan sengsara tanpa pengantar paket, bayangkan, bahkan paket penting untuk direktur sialan itu pun harus diantarkan oleh pengantar paket. Hahaha! Pengantar paket adalah pekerjaan paling penting, kalau tidak ada pengantar paket, siapa lagi yang akan mengantarkan barang penting ini kepada direktur perusahaan sebesar ini? tidak ada! Pekerjaan direktur benar-benar tidak ada artinya dibanding pengantar paket. Tubuh yang pengantar paket gemetar, menahan dingin dan hajat yang semakin melesak.

Direktur gila! kemana dia! sialan! Coba bayangkan, apa pentingnya seorang direktur? kerjaanya hanya membuat orang kesal saja. mungkin dia menyuruh-nyuruh orang seenaknya. Lihat saja, sekarang sudah pukul satu lewat. Salah siapa paket ini menjadi terlambat?? Sang pengantar paket menyumpahi direktur itu dalam kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Sang pengantar paket memandangi orang-orang yang tadi dikaguminya dan masih dikaguminya. Dengan lemah ia mengakui dalam hatinya, ya, sang direktur adalah bos mereka. Bos orang-orang hebat ini, tentulah dia adalah orang yang hebat. Orang-orang yang pastinya bergaji besar. Bergaji besar sekali sehingga mampu membayar mahal untuk jasa pengiriman paket. Kemarahan sang pengantar paket melemah, berganti dengan ketidak berdayaan. Ia teringat perkataan bosnya, direktur ini membayar mahal untuk mendapatkan paket itu setiap hari, karena itu bosnya mempekerjakan sang pngantar paket baru itu, sial! umpat sang pengantar paket . Hajatnya sudah sampai diujung tanduk. Sang pengantar paket mengumpat lagi. Tangannya yang memegang paket itu mulai gemetar.

“Anda pengantar paket?” tanya seseorang berjas yang baru saja keluar dari lift.
“Ya , ya saya pengantar paket, anda Mr X?”
“ya, saya Mr X, maafkan saya karena membuat anda menunggu lama. Tadi saya mengalami sakit perut hebat, tak bisa tahan, maka saya ke toilet dulu membuang hajat” kata direktur tersebut sambil dengan senyuman yang sangat ramah. Ia mengambil paket dari tangan yang gemetar itu lalu berbalik dan menghilang kedalam lift.

Sang pengantar paket kehilangan kata-katanya. Ia berjalan keluar dengan gemetar hebat, entah karena kemarahan atau tidak bisa lagi menahan hajatnya.

The Broken Wings

___broken_wings_ii____by_all17-d3e3qf5
Keira mengayuh sepedanya kencang-kencang, tak di perdulikan ban belakang sepedanya yang kempes. Melaju menuju asrama warna
kuning muda, melemparkan sepedanya ke semak-semak begitu saja dan berlari masuk asrama itu.
“Dave.. Dave!!”
“Dave tak ada , barusan saja dia pergi!!”
“Kemana??” Keira memandang kamar diseberang kamar Dave, kamar orang yang barusan menyahutinya.
“Kau siapa? pacar Dave?  kemarilah, duduk dulu” kata seseorang dalam kamar itu, usianya kira-kira sebaya dengan Dave. Mungkin anak
baru di asrama ini. pikir Keira.
“Aku tak punya waktu” Keira berdiri  didepan pintu kamar Dave yang bersebrangan dengan pintu kamar penghuni baru itu.
“Minum dulu”  mengacungkan sebotol bir dingin. Keira menyeka keringatnya.
“Ayolah, namaku Ryan” akhirnya Keira menyerah pada haus tenggorokannya.

“Ah, sekarang sudah hilang sakitnya” kata Keira menekan-nekan tato bergambar sebelah sayap di pergelangan tangan kanannya. “Apanya? pergelangan tanganmu?” “Entah, tato ini serasa memanas dan berdenyut2, sakit” Keira memperlihatkan pergelangan tangannya. Menggosok-gosokan botol bir dingin itu ke tatonya, “Coba kulihat” Ryan meneliti pergelangan tangan Keira.

“Mengapa sayapnya cuma sebelah? Tato ini berpasangan? dengan siapa?” Ryan menatap Keira tajam.
“Dengan Dave lah!” Ryan terdiam.“Kei.. apakah kau sudah sering merasakan sakit pada tato mu ini?”
“Ya, sudah beberapa kali. Aku sudah bilang Dave, dia bilang aku harus memberitahu dia secepatnya kalau terasa sakit lagi, makanya aku cepat-cepat kemari”

“hmm…”
“Ikut aku Kei” Ryan berlari keluar diikuti dengan Keira.
“Ban sepedaku kempes”
“Kau kubonceng saja”

Ryan mengayuh sepedanya cepat-cepat, Keira dalam boncengannya mau tak mau memeluk erat-erat tubuh kurus Ryan. Mau kemana sih?
tanyanya dalam hati, tapi toh dia diam saja, menikmati angin yang menyapu wajahnya, menutup matanya karena angin itu terlalu tajam.
Ryan tiba-tiba menghentikan sepedanya, hampir saja Keira terlempar dari boncengannya.
“Kira-kira dong!” Keira turun dari sepea dengan tampang kesal.
“Maaf. kau kenal tempat ini?”
Alis Keira terangkat, dia mengamati sekelilingnya. Samar-samar ia teringat pernah kesini, tapi ia tak ingat kapan, sepertinya sudah lama sekali. Dengan Dave? Keira sama sekali tak ingat.

“Ayo masuk” Ryan menarik tangan Keira.
“Takut” Keira menahan diri. Rumah tua dari kayu ini membuatnya takut. Nyala lampu kuning temaran, pintu kayu yang tebal dan kokoh  membuatnya tak nyaman.
“Tak apa, ada aku”
“Tak lah, aku mau pulang saja” Keira tak beranjak.
“Kei, dengar. sini duduk” Ryan mengajak Keira duduk di tangga kayu rumah itu. Keira pun menurut.
“Kei, tentang Dave..”
“Kenapa dengan Dave?”
“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak… “

***
“Kei.. Keira!!” Keira melanjutkan langkahnya, tak peduli David yang memanggilnya.
“Kei!” Dave menarik pergelangan tangan Keira. Langkah Keira terhenti, memandang Dave tajam.
“Mau apa?” kata Keira dingin. Dave memandang pergelangan tangan Keira tak percaya.
“Tatoo mu, kau hapus?” Dave mengamati pergelangan tangan Keira. Mulus, dan bersih, tak ada sama sekali bekas tatoo ditangannya.
“Ya, aku hapus. Maaf Dave, aku sudah tau siapa dirimu”
Tiba-tiba wajah Dave terlihat kesakitan.
Dave betumpu pada kedua lututnya sambil memegangi tato dipergelangan tangannya yang kini kelihatan memerah. Tubuhnya menggeliat, keringat dingin mengalir menahan sakit.
“Siapa yang billang padamu?”
Tubuh Dave terus menggeliat, punggungnya menonjol, bajunya robek karena sesuatu mencuat dari punggungnya. Keira berteriak ngeri.
“Dave? kau kenapa??”
Tonjolan itu membesar, tiba-tiba keluar sebuah sayap putih dari punggung kirinya. Dave berlutut, sayap itu hanya sebelah. Tato ditangannya merah menyala seperti terbakar.
“S.. siapa yang bilang Keira??”
“Satu : kosong, Dave” kata suara di belakang Dave.
Keira ternganga.
“Ryan.. tolong Dave!” Keira memandang ke sosok di belakang tubuh Dave.
Dave membalikan tubuhnya dan melihat sosok Ryan disana, sepasang sayap putih membingkai punggungnya. Ia menyeringai, menjentikan jarinya mengeluarkan api, lama-lama semakin besar membentuk bola api.
“Kau….”
“Ya, sayapku sudah lengkap, kekuatanku sudah pulih”
Ryan melemparkan bola api itu ke arah Dave dan Keira. Keira menjerit.  Dave melindungi tubuh Keira. keduanya terlempar ke tanah. Punggung Dave terbakar, dan dengan kekuatan yang dimilikinya ia mengepakan sayapnya yang hanya sebelah, melindungi Keira dari serbuan bola api itu.

Keira tak sadarkan diri..

***

“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak…, tentang Dave” kata Ryan didepan rumah tua itu.
“Kenapa dengan Dave?”
“Kei.. Dave, adalah seorang malaikat”
“Apa maksudmu?”
“Dave adalah malaikat Kei, aku juga” Ryan menghela nafas.
“Benarkah? Aku tidak percaya, Apa karena itu.. ”
“Ya, karena itu Kei, kau mau lihat buktinya? masuk ke dalam bersamaku” Kei menurut tanpa sadar ketika Ryan menarik tangannya masuk ke dalam rumah tua itu.
Kei menurut juga ketika Ryan menyuruhnya duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan??” jerit Keira ketika Ryan membuka bajunya.
“Shh.. lihat saja” Ryan berdiri memunggungi Keira.
Tak lama Keira menjerit sambil menutup matanya ketika melihat sesuatu tiba-tiba melesak keluar dari punggung Ryan,  sayap putih seperti kapas mengelepak perlahan, hanya sebelah.
“Jangan takut Kei..”
“Is it real Ryan?” Keira perlahan membuka matanya.
“Kau boleh menyentuhnya”
Keira pun maju, menyentuh bulu-bulu halus dari sayap itu. Keira berteriak ketika tiba-tiba tato ditangannya terasa seperti terbakar., Keira langsung menarik kembali tangannya.
“It’s real.. mengapa hanya sebelah?”

***

“Kei.. Kei.. bangun Kei..”
“Mhhh…” Kei berusaha membuka matanya, tapi ia tak sanggup

***

“Dave juga malaikat?”
“Yes, he is.. hanya saja..”
“Hanya saja?”
“Dave is a fallen angel, Kei. Dia jatuh dalam dosa”
“Ha? apa maksudmu? dia jahat?”
Ryan mengangguk lemah.
“Tato sayap di tanganmu, dia mengikatmu Kei.. , karena itu kau harus menghapusnya”
“Mengikatku?”
“Ya, dia tidak akan melepasmu seumur hidupmu, kau akan menjadi korbannya”
“Uh.. lalu bagaimana aku bisa melepaskan diri dari Dave?”
“Aku bisa membantumu asal kau bersedia, tato mu harus ku hapus”
Keira menyodorkan tangannya pada Ryan.

***

Kei, dimana kau, tato ditanganku sudah tak tertahankan lagi, rasanya seperti terbakar. Aku tak bisa mencarimu kemana-mana Kei.. apa yang terjadi padamu?. Siapa iblis yang mengganggumu Kei.. Kau dimana???!! Bagaimana kau bisa berada sedekat itu dengan iblis?? Berhati-hatilah Kei..

***

“Kau yakin mau bersamaku Kei? hidupku berbahaya..”
“Tak apa, aku akan menjagamu” kata Keira.
Dave tertawa.
“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” Dave mulai melukiskan gambar sayap di pergelangan tangan Keira.

***

“Kei..  bangun .. ”
Keira masih terbaring di tanah. Ia merasa ada yang menyentuh pipinya. Ia membuka matanya, tapi terhalang oleh sesuatu yang lembut dan hangat, sesuatu menyelimutinya
“Apa .. Dave, apa yang terjadi?”
“Kei.. aku sudah berjanji akan melindungimu”
Keira menyadari, sayap Dave yang menyelimutinya.

“Dave sudahlah, kau tak bisa melindunginya terus menerus. Keira sudah memberikan sayapnya padaku, selamatkan dirimu, biarkan dia mati, atau kau yang mati. Ingat, sayapmu tinggal sebelah”teriak Ryan

“Tidak! Tidak akan!”
“Kau tau resikonya Dave” Ryan mulai tertawa

“Kei.. pejamkan matamu ”
Dave mengusap lembut pergelangan tangan Keira
“Tidurlah.. tidurlah Kei, aku akan selalu menjagamu”
Perlahan Keira terlelap..

***

Keira menatap keluar cafe, dingin. Sebulan telah berlalu sejak Keira ditemukan pingsan disebuah taman kota, dengan sebuah tato di pergelangan tangan kanannya. Diusapnya tato bergambar sayap itu perlahan. Gambar separuh sayap yang terkoyak.

“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” 

***

“Kalau jalan hati-hati dong!!”
“Uh.. maaf” kata pemuda yang baru saja menabrak Keira sehingga kopi panas yang dibawanya tumpah mengenai pergelangan tangannya.
“Biar kubersihkan” pemuda itu menarik ujung kaos nya dan mulai mengelap pergelangan tangan Keira. Keira membiarkannya.
“Sayapnya kok terkoyak?” tanya pemuda itu, mengelap percikan kopi di atas tato itu.
Ia memperhatikan gerakan pemuda itu yang mengelap pergelangan tangannya dengan hati-hati.
“Pergelangan tanganmu yang bertato ini pernah berasa sakit? Aku bisa menghapusnya kalau kau mau”

I wake up and I see the face of the devil, and I ask him, “What time is it?”
And he says, 
“How much time do you want?” 
(Diamanda Galas, The Shit of God)

“Tato ini tidak pernah terasa sakit lagi, karena pasanganya sudah berada disurga” Keira tersenyum menatap wajah pemuda itu, lalu melihat tato sayap yang hanya sebelah di lengan pemuda itu.

“Siapa namamu?”
Keira melangkah pergi, menjauhi pemuda itu.Di usapnya tato di  pergelangan tangannya. Keira menengadah ke langit, memandangi awan yang seputih salju, seperti sayap Dave.

Kali ini tak akan kubiarkan siapapun menghapusnya Dave, karena kau mengorbankan nyawamu untuk selalu melindungiku. 

“in another life, i would be your girl. We keep all our promises, be us against the world. 
In other life i would make you stay, so i don’t have to say you were the one that got away”

inspired by Katy Perry’s video clip – The one that got away

Trattoira Lafiandra

Lokasi  penulisan :  Dome Cafe @ Singapore Art Museum SIngapore

Waktu : 12 January 2014.  Pukul 15.18 – 17. 38 

(Today’s menu : Chocolate Lava with Gelato and ice latte without sugar)

Trattoria Lafiandra, nama itu tercetak di papan petunjuk arah di bagian samping museum itu. Mungkin dari sana namanya berasal. Artinya? Andra sendiri tidak tau. Ia berjanji akan mencari tahu nanti, tidak sekarang. Sekarang Andra hanya ingin berjalan-jalan, menikmati udara segar serta tempat baru yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. 

“Nona” Andra menoleh saat seseorang memanggilnya. 

“Ya?” dilihatnya seorang pria paruh baya dengan berkemeja putih membawa menawarkan brosur, Andra pun menerimanya tanpa minat.

“Mau masuk kedalam? nona harus beli tiket dulu di konter. Pria itu menunjuk sebuah pintu. 

“Tidak terima kasih pak, lain kali saja” 

Biarpun saat ini ia menikmati suasana di sekitar museum, tapi belum ada keinginan dirinya untuk masuk kedalamnya. 

Andra memiliki sedikit minat untuk seni, dia berharap dia lebih berdarah seni dan bisa mengerti arti lukisan-lukisan orang terkenal yang mempunyai makna tertentu. Dia berharap dia bisa membuat sesuatu yang indah yang dapat dinikmati banyak orang, tapi sepertinya itu bagai mimpi disiang bolong. Ayah dan ibunya pun tidak membantuk karena tidak meneteskan setitikpun darah seni kedalam tubuhnya. Sejauh yang Andra tahu, tidak ada satupun dari saudaranya yang menjadi pekerja seni, paling banter hanya bisa main gitar.  Makanya Andra sangat heran saat menemukan namanya tertulis di Museum seni ini, berarti namanya berkaitan dengan seni, atau mungkin mama papanya berharap anaknya bisa membuat karya seni, entahnya. Mungkin ia akan menanyakan pada papa mamanya nanti. 

Andra akhirnya menghentikan perjalanannya yang tidak menentu dan berlabuh di Dome Cafe, memesan Chocolate Lava with Gelato dan Ice Latte, without sugar. mengambil tempat dihalaman luar karena didalam terlalu ramai. Andra duduk menikmati pesanannya, menikmati suasana favoritenya, suasana sesudah hujan, angin yang bertiup masih dingin kadang membuat bulu kuduknya merinding, Bajunya yang tipis tidak sanggup menahan alirannya. Andra menyeruput Lattenya sambil memandangi papan petunjuk arah yang memuat namanya, yang terlihat jelas dari tempat dia duduk. Angin sepoi menyapu matanya hingga perlahan-lahan menutup.

—-

“Sofia, tak perlu memasak lagi” mamaknya melongok dengan kesal ke dalam dapur, memandangi putrinya yang sedang berperang didapur, wajahnya berlukiskan tepung yang tersebar kemana-mana. 

“Ya mamak, satu kali saja, Sofia pasti bisa membuat pasta yang enak” Sofia menyeka pipinya, menambah riasan tepung di wajahnya.

“Beli saja lah pastanya, baru kamu yang siapkan bumbu. atau beli saja bumbu instant, sudah pasti enak”

“tidak mama, Sofia ingin membuatnya sendiri. Mama harus yakin, Sofia pasti bisa, kan Sofia punya mamak yang pandai masak” 

“Tapi mamak tak pandai masak pasta dari italy, mamak hanya pandai masak pasta dari asia namanya mie goreng” mamak pun menyerah membiarkan putrinya memporak porandakan dapurnya, sekali lagi, dan lagi dan lagi. 

“Hello Signora, come stai?” 

“Sto bene. grazie. Aku membuatkanmu pasta lagi, cobalah, semoga kali ini lebih enak” Sofia menyuguhkan sepiring aglio olio masih hangat kepaa suaminya. 

“Grazie Sofia, kau tak perlu repot-repot membuatnya” Carlo menerima bungkusan itu dengan tersenyum. Dalam hatinya ia terkesan dengan gadis manis dihadapannya, yang tidak pernah menyerah pada keinginannya membuatkan pasta yang lezat. Ini sudah ke empat, tunggu, lima kalinya Sofia memasakan eksperimen pasta untuknya. 

“Tak merepotkan kok. Aku senang, aku ingin kamu bisa merasakan pasta yang enak disini, jadi kamu bisa mengobati sedikit rasa rindumu pada Italy. Sofia tersenyum. Carlo menatap mata wanita pujaanya dalam-dalam. Dulu ia pernah meragu untuk meneruskan bisnisnya di negara ini, tapi tidak setelah ia bertemu Sofia dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulit gelap eksotisnya, lesung pipinya, giginya yang bergingsul yang membuatnya bertambah manis saat tersenyum. Semuanya dirangkum dalam suatu wajah berbentuk sempurna, ditambah mata bulat biru yang bersinar-sinar, dan hidung mancung yang tidak semestinya ada disana. Tapi ada disana karena tetesan darah neneknya seorang Belanda, dan yang memberinya nama tengah Sofia, lengkapnya Ni Luh Sofia Margaretha, seorang gadis Bali dengan tetesan darah Belanda yang kini menetap bersamanya dan mamaknya di negara Singapura.

“Grazie amore mio” 

Sofiia tersenyum. 

“Bagaimana rasanya?” 

Enak sekali, al dante” Carlo menghabiskan pastanya, pasta ala Asia yang dibuat dengan penuh cinta. 

“Aku tak percaya, katakan padaku yang sesungguhkan, apakan itu sudah mirip dengan pasta Italia?” 

Carlo berpikir. Lalu tersenyum, memandang mata wanita pujaannya yang menatapnya penuh harap. 

“Bella mia, aku akan katakan sejujurnya. Pasta ini lebih berasa Asia daripada Italia” Carlo masih tersenyum memandang wajah Sofia yang berubah kecewa. 

“Tapi pasta ini sangat enak, bahkan lebih enak daripada pasta Italia, kau tahu kenapa?” ucapnya lagi. Sofia menggeleng, masih kecewa. 

“Karena aku tahu, pasta ini dibuat dengan penuh cinta” Carlo mengecup lembut bibir merah Sofia yang berubah dari kecewa menjadi senyum. Dibalasnya kecup itu. 

Sudah hampir 2 tahun Sofia menikah dengan Carlo, sang pengusaha rempah-rempah  dari Italia. Dan Sofia masih terus mencoba membuat pasta rasa Italia setiap hari sabtu untuk suaminya. Carlo membiarkan istrinya mencoba berbagai-bagai macam resep pasta, dari yang lumayan sampai yang rasanya benar-benar unik, kalau tidak mau disebut aneh karena terkadang bumbu-bumbunya itambah dengan rempah-rempah dari Bali, atau rempah-rempah china atau asia lainnya. 

“Bella mia, Sabtu ini tidak usah memasakkan aku pasta, aku ingin membawamu ke suatu tempat untuk merayakan ulangtahun perkawinan kita yang ke 2” 

Maka hari itu Sofia sudah berdandan dengan cantik, gaun satin berwarna gading dengan payung rendanya, Carlo menjemputnya dengan tuxedo hitam. Kereta kuda sudah menanti mereka didepan rumah. Kereta kuda pun melaju, Carlo dan Sofia menyapa Shi Lin, gadis tetangga yang mengenakan cheongsam dengan kain merah berbunga kuning yang berjalan dengan kekasihnya. 

“Kita kemana?” tanya Sofia.

“nanti bella mia tahu sendiri, nikmati saja perjalanannya” Sofia pun menurut. Memandang indahnya kota, memandang selat didepan gedung Fullerton. Tangan kirinya digenggam erat oleh suaminya sementara tangan kanannya menahan gaunnya agar tak berkibar. 

“Kita sudah sampai bella mia” Carlo menuntunnya turun. Sofia memandang sekelilingnya.

“Aku tidak tahu kau suka seni, Carlo sayang” 

“Aku memang kurang suka seni, dan aku tidak punya darah seni” 

“Sejujurnya Carlo, aku tidak sepenuhnya mengerti tentang seni”perkataan jujur Sofia membuat Carlo terbahak. 

“Kau pikir aku mengerti?” kali ini Sofia yang terbahak. 

“Bukan itu tujuanku berada disini bella mia” Carlo mengandeng tangan Sofia yang dibalut dengan sarung tangan putih”

“Ini dia” mereka berdiri ditempat dengan papan nama terpampang bertuliskan “Trattoria Lafiandra” 

“Ini?” Sofia melongok ke dalam. 

“Ini adalah sebuah restaurant italia., mari kita masuk” mereka pun mengikuti seorang pelayan yang menunjukan mereka meja. 

“Dulu aku sering kesini, saat kangen makanan Italia” kata Carlos sambil membolak balik menu didepannya. 

“Kapan terakhir kali kamu pergi kesini?” 

“Sudah lama, sebelum kita menikah, bella mia” 

“Lalu, kenapa tidak pernah kesini lagi sesudah kita menikah? Dan apakah kamu mengajakku kesini agar aku bisa merasakan rasa Italia itu seperti apa? sehingga aku bisa memperbaiki rasa pasta yang kubuat kah?” Carlos terbahak. 

“TIdak bela mia, Karena aku terlalu menikmati hidupku denganmu, dan aku merasa hidupku bukan lagi rasa Italia. Hidupku kini percampuran rasa Italia, Bali Indonesia dan Singapura, dengan bumbu cinta. Aku tidak lagi perlu rasa Italia untuk membuatku bahagia, karena aku sudah punya engkau” 

Sofia tersenyum. 

“Lalu, mengapa tiba-tiba engkau mengajakku kesini?” 

“Aku ingin membawa engkau merasakan rasa Italia bersama dengan aku, karena kalau aku tidak bersama dengan engkau, bahkan rasa Italia pun menjadi tidak enak lagi bagiku” 

Sofia tersenyum, cinta nya semakin besar kepada suaminya.

“Kalau kita punya anak perempuan nanti, aku akan memberinya nama Lafiandra. Karena ditempat ini aku merasakan betapa beruntungnya aku mendapatkan engkau, dan rasa cintaku bertambah kepada engkau” 

—-

Cipratan air menghentak Andra, ia pun terbangun dari tidurnya. Rupanya udara yang sejuk telah membuatnya tertidur bangku-bangku di Cafe itu. Hujan rupanya. Ia segera membereskan barangnya,  membayar pesanannya. Lalu pulang. 

— 

Dirumah, sesudah mandi dan mencuci rambutnya, Andra menemukan mamanya sedang membuat makan malam. 

“mom Andra mau tanya dong”

“Tanya apa nak?” 

“Siapa yang kasih nama Andra mom?”

“Oma Sofie yang kasih, kenapa?”

“Kenapa bukan papa dan mama yang kasih nama Andra?”

Waktu dulu, papa mu cerita. Kalau mamanya, oma Sofie, ingin memberikan nama Lafiandra kalau beliau punya anak perempuan, namun ternyata oma Sofie dan Opa Carlos hanya mempunyai anak laki-laki. Karena itu papa akhirnya memberi nama kamu sesuai dengan apa yang oma mau”

“Mom tau kenapa oma memberi nama Lafiandra?’

“umm mom tidak tahu, papamu juga pernah bertanya tapi tidak diberi tahu.  Kenapa Andra tiba-tiba tanya tentang nama Andra? Andra tidak suka?” 

“Suka sekali ma” jawab Andra tersenyum. 

Suka sekali, terutama karena Andra mengetahui ternyata namanya bukan hanya sekedar nama Restaurant, tapi ada makna yang romantis dan penuh cinta didalamnya. Dan itu menjadi rahasia Andra dengan almarhum Oma Sofie yang didapatnya melalui mimpi 🙂 

Lain kali, ia akan mencobanya. Trattoira Lafiandra . 

*cerita ini hanya fiksi belaka, tidak sesuai dengan sejarah dan waktu. 

*The trattoira/ restaurant is a real place, you can find it at Trattoira Lafiandra

*Lava cake with gelato is so so, ice latte is quite nice 🙂 

* Location : Singapore Art Museum

Nyonya Marie Van der Berg

Nyonya Van der Berg, yang bernama gadis Marie, dalam usianya yang sudah melewati enam puluh tahun, tubuhnya masih tetap ramping seperti saat masih remaja. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dirinya.

Marie rela mengajak keluar dan mentraktir teman-teman lamanya hanya untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya. Dan lagi dan lagi, sesuai dengan apa yang Marie harapkan, Marie selalu mendapatkan bahwa teman-teman nya yang dulu ramping kini sudah mengembang dengan lemak bergelambir di beberapa bagian tubuh mereka, terutama perut.
Ini karena melahirkan, kata temannya. Tapi mereka tak bisa membela diri terlalu banyak karena Marie yang berbadan ramping berperut rata itu sudah melahirkan empat orang anak.

Hari ini merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Marie. Hari pertemuan dengan teman-teman lamanya. Marie sudah mengatur agar mereka mengadakan pertemuan sebulan sekali, dengan alasan untuk menjaga tali persahabatan agar tidak terputus begitu saja. Tentu saja, Marie yang akan membayar semua biaya dari pengeluaran itu.

Benar saja, sekali lagi Marie menjadi pusat perhatian di pertemuan yang terdiri dari enam orang itu. Karena entah bagaimana, Marie selalu berhasil membawa topik tentang berat badan ke dalam pertemuan itu. Dan tak bosan-bosannya, temannya berusaha mendapat sedikit resep untuk mendapatkan tubuh langsing.
“Aku heran bagaimana badanmu bisa tetap langsing setelah melahirkan beberapa anak”
“Suamimu tentu sangat bangga dan bahagia memiliki istri yang bertubuh langsing”
“Beri kami tips untuk bisa langsing sepertimu Marie”
Pertanyaan beruntun dari teman-temannya itu tentu saja membuat Marie lebih merasa bersemangat lagi.
“Kalian harus berpikir betapa menyedihkan hidup kalian. Kau, Amber dan Gina, suamimu menceraikanmu. Jika tubuhmu langsing dan menarik, tentu dia tak akan meninggalkanmu. Lihat saja suamiku, mana mungkin dia meninggalkan aku. Dia pasti bangga sekali terhadapku. Dan aku tidak pelit, akan kuberi tahu bagaimana menjaga tubuh agar tetap langsing. Rahasianya ada di piring kita masing-masing.Coba lihat apa yang ada di piring kalian, dan lihat apa yang ada di piringku” Marie memandang jijik ke piring teman-temannya yang berisi daging steak berlemak. Di lain pihak teman Marie memandang tanpa napsu pada isi piring Marie yang hanya berisi salad tanpa dressing dan buah potong.
Lalu Marie seperti biasa menceramahi teman-temannya tentang gaya hidup sehat, teman-teman Marie mendengarkan dengan seksama, memandang Marie tanpa kedip sambil menyuapkan potongan-potongan daging dan puding-puding coklat ke mulut mereka.

Pertemuan berakhir, dengan bangga Marie melenggang meninggalkan teman-temannya. Menaiki taksi pertama yang berhenti di hadapan mereka. Sepeninggalan Marie, teman-temannya yang pulang bersama berjalan kaki menuju halte bis.

“Selalu saja, Marie selalu membicarakan berat badan dan mencemooh kita karena kita tidak bisa ramping seperti dia. Aku muak sekali mendengarnya”
“Betul, Marie salalu membicarakan topik berat badan setiap pertemuan. Aku merasa seperti orang bodoh saja. Lagipula, siapa yang mau tubuh kerempeng seperti dia? aku lebih suka tubuhku biarpun aku gendut tapi tapi sexy”
“betul, dan payudaramu besar” kata salah satu dari mereka yang disambut tawa riuh oleh yang lain.
“Dan seenaknya saja dia bicara suamiku meninggalkanku karena bentuk badanku, padahal aku yang meninggalkannya karena dia tukang mabuk”
“Kalau bukan untuk makanan enak dan gratis sebulan sekali, aku tak sudi bertemu Marie lagi”
“Betul, aku juga”
“Eh kau tau, aku dengar suami Marie ada main dengan wanita dari kota sebelah”
“ya aku pun mendengar gosipnya, dan kabarnya wanita itu bertubuh montok”
“itu bukan gosip, aku melihatnya sendiri suami Marie bercumbu dengan wanita montok dibelakang bar tempatku bekerja”
“Marie yang malang..”
“kukira aku akan tetap menghadiri undangannya”
“ya aku juga.. Marie yang malang..”
sayup-sayup suara mereka menghilang seiring dengan semakin jauhnya mereka berjalan.

Dora first love

Dora mencari-cari kelas barunya di SMU QUALITY ini.Kelas 1-4… 1-4.. dimana? arghh.. andai ada orang yang gue kenal disini, Dora mengepalkan tangannya gemas sambil celingak celinguk melihat angka-angka yang tertempel diatas pintu kelas, ia melewati koridor sekolah yang panjang.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada seorang cowok diujung koridor, cowok itu lagi berdiri didepan kelasnya, duhh.. ni cowok lucu banget, putih, gak terlalu tinggi, badannya agak gede gitu, pake kalung putih, udah gitu yang terpenting, matanya sipitttttttttt…. Dora paling gak kuku liat cowok mata sipit itu, seksi bo!.

Dari jauh Dora pura-pura ngeliatin jalan didepan, padahal matanya gak berkedip ngeliatin tu cowok, tapi begitu udah deket, langsung deh kepalanya tertunduk dalem-dalem, gak berani liat. Tapi tetep gak lupa diliriknya angka yang tertempel diatas pintu kelas si cowok sipit, kelas 2-1.

Uhuii.. siapa ya namanya?Fiuhh.. setelah tanya sana sini akhirnya Dora menemukan kelasnya. Dilihatnya anak-anak sudah ramai di dalam kelas, dan bangku-bangku deretan belakang pun sudah terisi. Dora mulai mencari-cari tempat duduk, bingung. Gak ada satupun yang Dora kenal.

Akhirnya Dora duduk di salah satu bangku kosong deretan ke 2 dari depan.
Tak berapa lama kelaspun penuh, Dora mendapat teman sebangku dari luar kota seperti dirinya, sementara kebanyakan anak-anak SMU QUALITY ini berasal dari SMP QUALITY, jadi kebanyakan sudah saling kenal. Gak seperti dirinya dan Vika yang berasal dari kota lain.

Pelajaran hari ini diikuti Dora sungguh-sungguh, biarpun isinya kebanyakan baru perkenalan beberapa guru. Tapi ada juga guru yang sok rajin dari awal langsung ngasih pelajaran ditambah bonus tugas. Huu..Di sekolah barunya ini, Dora bertekad rajin belajar, dan .. ehem, diet biar kurus. Soalnya badan Dora emang melar banget, makanya sampai sekarang Dora belum pernah punya cowok.

Mana ada cowok yang mau sama cewek endut kayak gue, batin Dora. Coba, mana ada anak jaman sekarang yang belum pernah pacaran? Di seluruh dunia mungkin Cuma gue doank yang belum pernah merasakan indahnya pacaran, hiks.. Dora merutuki nasibnya.

“Dora.. Dora..” tiba-tiba seseorang menganggu lamunannya. Rupanya Vika, teman sebangkunya.
“Istirahat nih, mau ke kantin?” Kapan sih Dora pernah menolak diajak ke kantin? Akhirnya mereka berdua ke kantin sekolah, Dora terkagum-kagum dengan banyaknya jenis makanan yang terdapat disana, dari mulai bakmi, mpek-mpek, bubur ayam, soto belum lagi jajanan seperti gorengan dan berbagai jenis minuman. Dora menelan liurnya biar gak netes, dan niat dietnya pun menguap entah kemana.
—–

Itu awal Dora masuk SMU, sekarang Dora udah kelas 3. Tapi Dora masih Dora yang dulu, endut, dan masih belum ngerasain pacaran. Tapi sekarang Dora udah lebih bijaksana sih dalam hal pacaran. Gak terlalu mengharap kayak dulu-dulu, alias pasrah. Yah, belum ada yang mau terus gue musti gimana?

Dora sekarang gak mau sakit hati lagi setelah beberapa kali dia disakitin, atau lebih tepatnya nyakitin diri sendiri. Abis gimana, awal kelas satu Dora naksir anak 2-1 yang sipit itu. suka ngeliatin si cowok maen basket, tiap hari ngelewatin kelasnya sambil tengok-tengok moga-moga aja si cowok sipit ada dikelas. Dora bener-bener suka deh ama tuh cowok, biarpun gak kenal. Dora berharap banyak dari tuh cowok. Tapi ya gimana, namanya juga gak kenal, gak ada harapan sama sekali. Apalagi waktu tau ternyata tuh cowok inceran banyak cewek, tambah jauh deh harapan Dora. Dora Cuma bisa ngehayalin aja sebelum bobo.

Itulah cinta pertama Dora, anak 2-1 bermata sipit. Dan cowok itu berakhir dalam curhatan Dora ke Monie, temen sebangkunya di kelas 2 dan Rere, teman satu kostnya.Sejak itu Dora gak pernah suka sama cowok lain lagi, selalu menghayalkan betapa sempurnanya si cowok sipit itu. First love gitu lokh!
—–

Si cowok sipit akhirnya terlupakan, apalagi sekarang Dora sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung.Sekarang Dora lagi berleha-leha di kamar kostnya. Gak ada yang berubah dari Dora, masi teteup endut dan, ups, belum punya cowok. Tiba-tiba hp cdma-nya bunyi. Dilihatnya nama ‘Monie’ tercetak di layar hp-nya. Monie sekarang kuliah di Jakarta, satu kampus bareng Rere.

“Oi Mon”
“Dora.. gue punya surprise buat lo” suara cempreng Monie terdengar bersemangat.
“Apaan Mon?”
“Nomor Hp Felix!!” kata Monie sambil setengah menjerit.
“Hah? Felix? Felix?” Dora menggali kembali ingatannya tentang seorang Felix. Hah? FELIX yang itu?!!
“Iya, si cowok sipittttt… jangan bilang lo lupa!” Suara Monie terdengar galak.
“Hah? Serius lo? Dapet dari mana? Kok bisa?” Emang sih Dora tau Felix kuliah di Jakarta, di tempat Monie dan Rere. Soalnya Rere sempet bilang dia ketemu Felix beberapa kali di kampus. Dan kabarnya Felix udah punya cewek juga, soalnya Rere sering ngeliat Felix gandengan tangan berdua ama cewek yang katanya mirip Kelly Chen.
“Gue tau dari Devin, lo tau kan Devin kuliah bareng gue” Taulah, apa sih yang Dora gak tau tentang Felix. Dora tau banget kalo Devin tuh adiknya Felix, yang mukanya mirip-mirip Felix, tapi lebih tinggi dan badannya kurus banget.
“Gila, kok lo bisa nekat gitu sih Mon? lo gak bilang minta nomor hp Felix buat gue kan?”
“Nggak lah, gue gak sebego itu kali Dor. Lo tenang aja, gue Cuma bilang buat temen gue. Ya udah deh, gue mau ngerjain tugas dulu nih, mepet, nih lo catet nomornya” Monie pun memberikan sederetan angka-angka yang langsung dicatat Dora dengan antusias.
“Ok deh, thanks banget ya Mon” pembicaraan-pun berakhir.

Lama dora menimang-nimang kertas putih yang berisi sederetan angka ditangannya, pikirannya melayang. Mo gue apain nih nomor? Ngeliatnya aja udah deg-degan. Dora pun ngebayangin khayalannya yang dulu-dulu. Diingat-ingatnya lagi muka ganteng Felix, mata sipit tapi tajemnya, permainan basketnya, suaranya , cara berjalannya, semua Dora masih ingat. Bahkan tas sekolahnya yang kucel berwarna biru item. Ah, semakin ingat perasaan Dora yang sudah lama terkubur rasanya muncul lagi dipermukaan.

Gimana nih?Lalu Dora mulai mengambil HP-nya, diketiknya SMS singkat untuk yang berisi “Hai” doank, lalu send. Abis itu Dora langsung men-silent Hp-nya lalu kabur ke kamar Luna, temen sekostnya. Di kamar Luna, mereka mengobrol sambil nonton acara gossip sore di TV. Tapi hati Dora deg-degan abis, sedetik-sedetik diliriknya hpnya yang lagi silent mode on.
“Gila ni cewek, kawin cere kawin cere, gak cape-cape” kata Luna sambil menonton gossip salah satu artis Indonesia yang terkenal seksi.
“Ah, kawin cere itu sih udah biasa, Cuma berhubung dia artis aja jadi di beritain sampe segitunya. Coba kalo bukan artis, pasti orang-orang cuek-cuek aja tuh, gak pada protes” kata Dora yang agak males dengerin gossip artis, matanya masih tetep ngelirikin HP-nya.
“Iya sih, tapi artis mustinya jangan gitu donk, gak malu ama public apa” kata Luna yang masih tetep anteng melototin TV.
“Lagian lo ngurusin amat, kenal juga kaga”

DEGG!! HP Dora nyala, 1 received messege. Ups? Dora buru-buru meraih HP-nya. Bener kan? balesan dari Felix dengan jawaban yang gak kalah singkatnya “Hai juga, siapa nih?”
“Gue Lucy, boleh kenalan? Lo Felix kan?” bales Dora sok pake nama samaran. Sebenernya bukan nama samaran sih, soalnya nama panjang Dora tuh Dora Lucinda, jadi gak salah donk gue pake nama Lucy… Iya deh Dor, apa mau lo aja.Gak lama, balesan-pun datang lagi.
“Hai Lucy, boleh, lo tau nomor gue darimana? Btw, lo dimana?”Dora seneng bukan kepalang baca balesan Felix. Pengen rasanya ketawa-ketawa sendiri, tapi keinget ada Luna disitu. Akhirnya Dora Cuma cengar-cengir gak jelas. Gue happy……

—–
Udah sebulan Dora sms-an ama Felix. Kadang juga telpon-telponan. Awalnya dora bener-bener terhanyut sama Felix, keduanya makin deket sampe kayak orang pacaran malah udah sampe sayang-sayangan segala, padahal belum pernah ketemu. Itu awalnya, tapi sekarang rasanya ada yang beda yang dirasain Dora. Dora udah gak terlalu antusias sama yang namanya Felix, cinta yang dulu dirasanya menggebu-gebu (ciehh) sekarang rasanya mengkerut kayak anjing pom-pom dimandiin.

Tapi Dora tau, apa yang dialamin Felix justru kebalikannya. Sekarang Felix yang terus ngejar-ngejar Dora, bukan ngejar-ngejar beneran lho, emangnya film India pake kejar-kejaran. Maksudnya sekarang Felix sering nelponin Dora, sering sms-in Dora dan suka marah-marah kalo sms-nya gak dibales. Nah lho? Kok bisa gitu?Yah, semua ada sebabnya. Ada sebabnya juga Dora bisa jadi ilfeel ama Felix, kenapa coba?

Ternyata setelah Dora kenal Felix, Dora dapet fakta yang gak terduga :
1. Felix tuh penipu. Dia bilang baru putus ama ceweknya yang pindah ke Amerika, padahal Rere cerita kalo dia masih sering ngeliat Felix masih gandengan tuh ama ce-nya yang mirip Kelly Chen.
2. Felix itu tipe cowok yang gombal banget.
3. Felix itu tipe cowok yang mentingin materi.
4. Felix itu tipe-tipe cowok yang agak jorok, bukan gara-gara dia males mandi atau seneng maenan di comberan. Tapi otaknya rada omes alias piktor alias agak-agak gitu deh (gue sampe gak tega nulisnya)
5. Setelah lama dijalanin, Dora ngerasa kalo Felix tuh ngebosenin.

Yah, lima alesan itu udah cukup bikin Dora ngejauhin Felix. Ada yang sakit dihatinya, bayangin, first love yang selama ini dianggapnya mulia banget. Si cowok sipit yang selama ini dianggapnya sempurna banget, ternyata setelah bener-bener kenal, semuanya berubah 180 derajat. Mendingan gak usah kenal deh, seenggaknya gue masih bisa banggain dia sebagai first love daripada kenyataan ternyata dia tuh ‘bukan tipe gue banget’.

Dora yang tadinya sering tidur malem gara-gara sms-an ama Felix, sekarang sore-sore udah tidur. Yang tadinya kemana-mana bawa HP, sekarang Hp nya lebih sering ditinggal di kamar. sekarang gak terlalu diladeninnya lagi Felix yang suka marah-marah. Siapa dia? Pikir Dora. Dora bilang, abis pulsa jadi gak bisa bales sms. Felix yang sama aja anak kostnya pun maklum, soalnya dia sering juga abis pulsa. Mungkin gue jahat, tapi lo lebih jahat lagi. Masa masih punya cewek, selingkuh sama gue? Sakit hati gue… tapi gimana, gue masih sayang sama dia.
—–

Semua berjalan begitu aja, Dora dan Felix masih berhubungan setiap hari sampai disuatu hari yang mendung HP Dora bunyi.“Hallo?” Dora mengangkat telpon males-malesan.
“Lucy!! Minggu depan kan senin tanggal merah, gue mau ke Bandung ya. Kita ketemu ya!!” suara Felix mengagetkan Dora. Mampus gue..
“Eh.. minggu depan papi gue dateng tuh. gue mau pergi jalan-jalan sama dia” Dora langsung nyari alesan yang dirasa paling masuk akal.
“Yah.. gue pengen ketemu sama lo Luc, kapan donk lo ada waktu??” suara disebrang terdengar kecewa.
“Ya, abis gimana, ya udah ntar gua kabarin lo lagi deh, gimana?”
“Ya udah deh, jangan lupa ya kabarin gue secepetnya”Gue gak berani ketemu. Felix gak bakal suka sama gue, gue endut begini, jelek lagi. Duh.. gimana donk??? Dora tambah stress mikirin semuanya. Besar keinginan buat ketemu, tapi apa daya, dora pernah bohong sama Felix tentang badannya. Dora bilang badannya gak endut, modis, bla bla bla.. semua yang kira-kira Felix suka dari seorang cewek. Mati deh gue..

Alesan demi alesan pun diluncurkan Dora demi gak ketemuan sama Felix. Dora sedih banget setiap kali nolak Felix buat dateng, sampai akhirnya Felix marah sama Dora gara-gara gak mau ketemuan. Sejak itu Felix ngejauhin Dora, giliran Dora yang kebat-kebit ditinggalin. Dora sedihh banget sampe nangis sendirian tiap malem dikamarnya. Dora gak berani cerita ke temen-temennya karena malu. Dora tau ini kesalahan dia sendiri, dora gak mau temen-temennya malah ngetawain dia. Akhirnya Dora Cuma bisa berkeluh kesah sendiri. Gue emang endut, jelek, tapi apa gue gak punya kesempatan buat mencintai dan dicintai? Kadang Dora marah sama Tuhan, kenapa Tuhan ciptain gue begini? Kadang Dora coba untuk diet, tapi susahnya setengah mati, apalagi kalau temen-temen kostnya ngajakin dora makan, udah deh..

Hingga pada suatu saat Felix sama sekali nggak bales sms dora dan nggak mau angkat telpon Dora. Dora kelimpungan setengah mati, gimana nih, Felix pasti marah banget gara-gara gue nolak ketemuan terus. hari-hari yang biasa dilaluinya dengan sms dan telpon dari Felix, kini rasanya sepi banget. Dora minta maaf berkali-kali tapi tetep gak ada reaksi dari Felix. Malahan beberapa telponnya di reject Felix. Sakit banget, hati Dora seperti ketusuk duri landak. dora hanya bisa nangis. Kuliahnya kacau, hidupnya kacau, semuanya kacau.Beberapa hari berlalu, keadaan gak berubah. Sms-sms dora masih belum ada yang dibales. Dora masih coba-coba telpon, masih gak diangkat.

Malam harinya tiba sms dari Felix, isinya sangat menyakitkan Dora.“Lucy, sorry, semua bukan salah lo, gua Cuma lagi sedih aja. Gua sebenernya masih jalan sama cewek gue yang di Amrik, dan gue baru denger beberapa hari lalu kalo cewek gue itu selingkuh disana. Gue sedih banget Luc. Sorry ya”

Baca sms Felix tak urung tangis Dora pun pecah, dora terduduk di lantai disamping tempat tidurnya. badannya terguncang keras. Dibiarkannya air matanya mengalir deras. Hatinya yang luka berdarah seperti ditaburin garam, perih banget.Gue udah tau dari awal kalo lo emang belom putus sama cewek lo, gue tau lo bohongin gue selama ini. tapi kenapa waktu lo bilang langsung, hati gue gak bisa nahan rasa sakit ini..
Beberapa tahun sudah berlalu, kejadian itu sudah terlupakan. Hanya jika teringat, Dora masih merasa kayak ada semut yang iseng ngegigit sudut hatinya. Dora gak tau harus nangis atau ketawa kalo inget kejadian itu.

ooOOoo

*Jakarta 07*