The Broken Wings

___broken_wings_ii____by_all17-d3e3qf5
Keira mengayuh sepedanya kencang-kencang, tak di perdulikan ban belakang sepedanya yang kempes. Melaju menuju asrama warna
kuning muda, melemparkan sepedanya ke semak-semak begitu saja dan berlari masuk asrama itu.
“Dave.. Dave!!”
“Dave tak ada , barusan saja dia pergi!!”
“Kemana??” Keira memandang kamar diseberang kamar Dave, kamar orang yang barusan menyahutinya.
“Kau siapa? pacar Dave?  kemarilah, duduk dulu” kata seseorang dalam kamar itu, usianya kira-kira sebaya dengan Dave. Mungkin anak
baru di asrama ini. pikir Keira.
“Aku tak punya waktu” Keira berdiri  didepan pintu kamar Dave yang bersebrangan dengan pintu kamar penghuni baru itu.
“Minum dulu”  mengacungkan sebotol bir dingin. Keira menyeka keringatnya.
“Ayolah, namaku Ryan” akhirnya Keira menyerah pada haus tenggorokannya.

“Ah, sekarang sudah hilang sakitnya” kata Keira menekan-nekan tato bergambar sebelah sayap di pergelangan tangan kanannya. “Apanya? pergelangan tanganmu?” “Entah, tato ini serasa memanas dan berdenyut2, sakit” Keira memperlihatkan pergelangan tangannya. Menggosok-gosokan botol bir dingin itu ke tatonya, “Coba kulihat” Ryan meneliti pergelangan tangan Keira.

“Mengapa sayapnya cuma sebelah? Tato ini berpasangan? dengan siapa?” Ryan menatap Keira tajam.
“Dengan Dave lah!” Ryan terdiam.“Kei.. apakah kau sudah sering merasakan sakit pada tato mu ini?”
“Ya, sudah beberapa kali. Aku sudah bilang Dave, dia bilang aku harus memberitahu dia secepatnya kalau terasa sakit lagi, makanya aku cepat-cepat kemari”

“hmm…”
“Ikut aku Kei” Ryan berlari keluar diikuti dengan Keira.
“Ban sepedaku kempes”
“Kau kubonceng saja”

Ryan mengayuh sepedanya cepat-cepat, Keira dalam boncengannya mau tak mau memeluk erat-erat tubuh kurus Ryan. Mau kemana sih?
tanyanya dalam hati, tapi toh dia diam saja, menikmati angin yang menyapu wajahnya, menutup matanya karena angin itu terlalu tajam.
Ryan tiba-tiba menghentikan sepedanya, hampir saja Keira terlempar dari boncengannya.
“Kira-kira dong!” Keira turun dari sepea dengan tampang kesal.
“Maaf. kau kenal tempat ini?”
Alis Keira terangkat, dia mengamati sekelilingnya. Samar-samar ia teringat pernah kesini, tapi ia tak ingat kapan, sepertinya sudah lama sekali. Dengan Dave? Keira sama sekali tak ingat.

“Ayo masuk” Ryan menarik tangan Keira.
“Takut” Keira menahan diri. Rumah tua dari kayu ini membuatnya takut. Nyala lampu kuning temaran, pintu kayu yang tebal dan kokoh  membuatnya tak nyaman.
“Tak apa, ada aku”
“Tak lah, aku mau pulang saja” Keira tak beranjak.
“Kei, dengar. sini duduk” Ryan mengajak Keira duduk di tangga kayu rumah itu. Keira pun menurut.
“Kei, tentang Dave..”
“Kenapa dengan Dave?”
“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak… “

***
“Kei.. Keira!!” Keira melanjutkan langkahnya, tak peduli David yang memanggilnya.
“Kei!” Dave menarik pergelangan tangan Keira. Langkah Keira terhenti, memandang Dave tajam.
“Mau apa?” kata Keira dingin. Dave memandang pergelangan tangan Keira tak percaya.
“Tatoo mu, kau hapus?” Dave mengamati pergelangan tangan Keira. Mulus, dan bersih, tak ada sama sekali bekas tatoo ditangannya.
“Ya, aku hapus. Maaf Dave, aku sudah tau siapa dirimu”
Tiba-tiba wajah Dave terlihat kesakitan.
Dave betumpu pada kedua lututnya sambil memegangi tato dipergelangan tangannya yang kini kelihatan memerah. Tubuhnya menggeliat, keringat dingin mengalir menahan sakit.
“Siapa yang billang padamu?”
Tubuh Dave terus menggeliat, punggungnya menonjol, bajunya robek karena sesuatu mencuat dari punggungnya. Keira berteriak ngeri.
“Dave? kau kenapa??”
Tonjolan itu membesar, tiba-tiba keluar sebuah sayap putih dari punggung kirinya. Dave berlutut, sayap itu hanya sebelah. Tato ditangannya merah menyala seperti terbakar.
“S.. siapa yang bilang Keira??”
“Satu : kosong, Dave” kata suara di belakang Dave.
Keira ternganga.
“Ryan.. tolong Dave!” Keira memandang ke sosok di belakang tubuh Dave.
Dave membalikan tubuhnya dan melihat sosok Ryan disana, sepasang sayap putih membingkai punggungnya. Ia menyeringai, menjentikan jarinya mengeluarkan api, lama-lama semakin besar membentuk bola api.
“Kau….”
“Ya, sayapku sudah lengkap, kekuatanku sudah pulih”
Ryan melemparkan bola api itu ke arah Dave dan Keira. Keira menjerit.  Dave melindungi tubuh Keira. keduanya terlempar ke tanah. Punggung Dave terbakar, dan dengan kekuatan yang dimilikinya ia mengepakan sayapnya yang hanya sebelah, melindungi Keira dari serbuan bola api itu.

Keira tak sadarkan diri..

***

“Dengar, kau boleh percaya ataupun tidak…, tentang Dave” kata Ryan didepan rumah tua itu.
“Kenapa dengan Dave?”
“Kei.. Dave, adalah seorang malaikat”
“Apa maksudmu?”
“Dave adalah malaikat Kei, aku juga” Ryan menghela nafas.
“Benarkah? Aku tidak percaya, Apa karena itu.. ”
“Ya, karena itu Kei, kau mau lihat buktinya? masuk ke dalam bersamaku” Kei menurut tanpa sadar ketika Ryan menarik tangannya masuk ke dalam rumah tua itu.
Kei menurut juga ketika Ryan menyuruhnya duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan??” jerit Keira ketika Ryan membuka bajunya.
“Shh.. lihat saja” Ryan berdiri memunggungi Keira.
Tak lama Keira menjerit sambil menutup matanya ketika melihat sesuatu tiba-tiba melesak keluar dari punggung Ryan,  sayap putih seperti kapas mengelepak perlahan, hanya sebelah.
“Jangan takut Kei..”
“Is it real Ryan?” Keira perlahan membuka matanya.
“Kau boleh menyentuhnya”
Keira pun maju, menyentuh bulu-bulu halus dari sayap itu. Keira berteriak ketika tiba-tiba tato ditangannya terasa seperti terbakar., Keira langsung menarik kembali tangannya.
“It’s real.. mengapa hanya sebelah?”

***

“Kei.. Kei.. bangun Kei..”
“Mhhh…” Kei berusaha membuka matanya, tapi ia tak sanggup

***

“Dave juga malaikat?”
“Yes, he is.. hanya saja..”
“Hanya saja?”
“Dave is a fallen angel, Kei. Dia jatuh dalam dosa”
“Ha? apa maksudmu? dia jahat?”
Ryan mengangguk lemah.
“Tato sayap di tanganmu, dia mengikatmu Kei.. , karena itu kau harus menghapusnya”
“Mengikatku?”
“Ya, dia tidak akan melepasmu seumur hidupmu, kau akan menjadi korbannya”
“Uh.. lalu bagaimana aku bisa melepaskan diri dari Dave?”
“Aku bisa membantumu asal kau bersedia, tato mu harus ku hapus”
Keira menyodorkan tangannya pada Ryan.

***

Kei, dimana kau, tato ditanganku sudah tak tertahankan lagi, rasanya seperti terbakar. Aku tak bisa mencarimu kemana-mana Kei.. apa yang terjadi padamu?. Siapa iblis yang mengganggumu Kei.. Kau dimana???!! Bagaimana kau bisa berada sedekat itu dengan iblis?? Berhati-hatilah Kei..

***

“Kau yakin mau bersamaku Kei? hidupku berbahaya..”
“Tak apa, aku akan menjagamu” kata Keira.
Dave tertawa.
“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” Dave mulai melukiskan gambar sayap di pergelangan tangan Keira.

***

“Kei..  bangun .. ”
Keira masih terbaring di tanah. Ia merasa ada yang menyentuh pipinya. Ia membuka matanya, tapi terhalang oleh sesuatu yang lembut dan hangat, sesuatu menyelimutinya
“Apa .. Dave, apa yang terjadi?”
“Kei.. aku sudah berjanji akan melindungimu”
Keira menyadari, sayap Dave yang menyelimutinya.

“Dave sudahlah, kau tak bisa melindunginya terus menerus. Keira sudah memberikan sayapnya padaku, selamatkan dirimu, biarkan dia mati, atau kau yang mati. Ingat, sayapmu tinggal sebelah”teriak Ryan

“Tidak! Tidak akan!”
“Kau tau resikonya Dave” Ryan mulai tertawa

“Kei.. pejamkan matamu ”
Dave mengusap lembut pergelangan tangan Keira
“Tidurlah.. tidurlah Kei, aku akan selalu menjagamu”
Perlahan Keira terlelap..

***

Keira menatap keluar cafe, dingin. Sebulan telah berlalu sejak Keira ditemukan pingsan disebuah taman kota, dengan sebuah tato di pergelangan tangan kanannya. Diusapnya tato bergambar sayap itu perlahan. Gambar separuh sayap yang terkoyak.

“Aku yang akan menjagamu. Tato ini akan mengikat kamu dengan ku Kei, kuberikan separuh sayapku untuk melindungimu, jangen pernah kau hapus apapun yang terjadi” 

***

“Kalau jalan hati-hati dong!!”
“Uh.. maaf” kata pemuda yang baru saja menabrak Keira sehingga kopi panas yang dibawanya tumpah mengenai pergelangan tangannya.
“Biar kubersihkan” pemuda itu menarik ujung kaos nya dan mulai mengelap pergelangan tangan Keira. Keira membiarkannya.
“Sayapnya kok terkoyak?” tanya pemuda itu, mengelap percikan kopi di atas tato itu.
Ia memperhatikan gerakan pemuda itu yang mengelap pergelangan tangannya dengan hati-hati.
“Pergelangan tanganmu yang bertato ini pernah berasa sakit? Aku bisa menghapusnya kalau kau mau”

I wake up and I see the face of the devil, and I ask him, “What time is it?”
And he says, 
“How much time do you want?” 
(Diamanda Galas, The Shit of God)

“Tato ini tidak pernah terasa sakit lagi, karena pasanganya sudah berada disurga” Keira tersenyum menatap wajah pemuda itu, lalu melihat tato sayap yang hanya sebelah di lengan pemuda itu.

“Siapa namamu?”
Keira melangkah pergi, menjauhi pemuda itu.Di usapnya tato di  pergelangan tangannya. Keira menengadah ke langit, memandangi awan yang seputih salju, seperti sayap Dave.

Kali ini tak akan kubiarkan siapapun menghapusnya Dave, karena kau mengorbankan nyawamu untuk selalu melindungiku. 

“in another life, i would be your girl. We keep all our promises, be us against the world. 
In other life i would make you stay, so i don’t have to say you were the one that got away”

inspired by Katy Perry’s video clip – The one that got away

Advertisements