Standard (me & mom)

Gue nggak suka kerja sama orang lain, dan kalau gue usaha sendiri, gue punya standard. Mungkin itu sebabnya sampai saat ini gue belum mulai-mulai buat usaha sendiri, standard gue ketinggian kali ya? Yang jelas, standard ketinggian dan kekurangan modal hahaha..

Tapi dalam usaha gue sekarang (jualan buku) gue juga punya standard, gue akan bungkus buku dengan rapih dan untuk buku-buku baru yang mulus bakal gue wrap pake bubble wrap. Soalnya, gue juga suka beli buku, dan gue gak suka kalo buku yang gue beli ada cacatnya.

Cuma karena gue gak berada di Indo, dan gue harus minta tolong orang rumah (my mom, dan yang ngebungkus si mbak krn my mom tangan kirinya gak bisa gerak) , gue jadi susah menerapkan standard gue.

Pertama, karena gue nggak ngebungkus sendiri, kedua karena my mom nggak ngerti kalau buku itu gampang rusak (mungkin karena my mom bukan orang yang baca buku, so nggak ngerti kalo buku tuh kesenggol dikit aja bs cacat) jadi dia bungkus pake 1 lembar kertas aja (dan hasilnya 2 buku baru yang dikirim agak cacat gitu sepertinya, biarpun customer gak compain sih, cuma kasih saran next time dibungkus pake bubble wrap), tapi tetep aja gue jadi nggak enak gitu, karena gue juga pasti sebel kalo dapet buku yang cacat biarpun cacat kecil.

Ketiga, gue pikir karena ini bukan pertama kali my mom bantu gue bungkus buku dan kirim, so gue pikir my mom udah ngerti, dulu awal-awal gue bilang, bungkus yang tebel ya biar gak rusak (terus my mom bungkus sampe tebel gitu kyknya pake kertas koran deh, gue juga gak tau), dan gue kasih tau lagi kirimnya pake JNE reg atau yang lain. Tapi ternyata itu cuma dilakuin kalo gue minta doang, kalo nggak ya bungkus pake 1 lembar kertas aja , dan juga kalo gue gak bilang pake JNE apa kirimnya, dia juga gak nanya gitu, :S bingung juga gue.

Dan tiap kali gue bilang my mom gue mau back for good, my mom billing, jangan , soalnya di Indo mau kerja apa? plus kamu bisa dapet buku-buku buat di jualin. My mom bilang dia happy gitu kalo ada yang beli, jadi dia ada kerjaan dirumah gak nganggur-nganggur amat, cuma ya gitu deh.. jualan buku emang enak dilakuin sendiri , beli sendiri bungkus sendiri kirim sendiri kalo bisa, sayang gue belum bisa . But i’ll make sure from now on buku yang baru2 bakal wrapped in bubble wrap or di bungkus sampe tebel gitu deh 😀

But really thanks to my mom karena dia mau bantuin sih.. kalo enggak ada dia, nggak bisa jualan juga .

Thanks mami ❤ , maap complain dikit hehehe..

Luv u,

Advertisements

Aku selalu ada..

Panggil aku dengan sebutan apapun yang kamu mau
Aku bisa menjadi, apapun yang kamu perlu
Hanya jangan harapkan aku ada disitu terlalu lama
Walaupun aku ingin, aku hanya sementara..

Ingatlah aku,
setiap kali kau melihat topengku,
atau mendengar namaku.
Peluk aku saat kau bisa,
karena sedetik kau berpaling
aku sudah tak ada lagi disana

Hei hei..
tapi kau bisa mencariku disini
dan mungkin kau akan menemukan secuil kisahmu
disini
Aku selalu adaA

One More Chance

blogger-image--1187750399

2013 sudah berlalu, Gina merenunngi apa yang sudah berlalu, membiarkan ingatannya mengembara ke tahun lalu, dan selalu, berpusat pada satu titik. Jason.

Betapa kehilangannya merupakan suatu yang membuat setengah tahun hidupnya kelam, perasaan sedih yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Bahkan lebih sedih daripada ketika Gina kehilangan kakek tercintanya.

“Joe, kenapa? aku gak mau putus. kita udah bersama-sama sekian lama, apa segampang itu buat kamu putus sama aku Joe?
“Sorry Gin, nanti gue ngomong lagi sama lo ya, gue ada perlu” Joe pun pergi meninggalkan Gina di sebuah cafe kecil. Joe pergi ditengah rintik hujan. Gina terdiam, ia tau, harapannya untuk membuat Joe seperti dulu lagi hilang sudah. Joe benar-benar sudah berubah, seratus delapan puluh derajat. Joe yang sekarang, Gina tidak pernah kenal.

Sejak hari itu, Gina tidak pernah mencari Joe lagi. Dan seperti yang ia duga, Joe juga tidak pernah mencarinya.
2 bulan setelah itu merupakan saat dimana Gina harus mengambil keputusan terbesar dari hidupnya. Bukan hanya karena dia harus meninggalkan pekerjaannya, kota tempat dia bekerja, bahkan juga orang tuanya. Gina memilih tinggal dengan neneknya di kampung, dimana jarang sekali orang yang kenal dengan Gina.
Keputusan yang sempat menjadi pro dan kontra dalam keluarganya, namun akhirnya mereka mau menerima dan mensupport Gina. Akhirnya mereka membekali Gina dengan seorang pembantu, untuk membantu pekerjaan rumah sehari-harinya di rumah nenek. Bulan bulan berikutnya, Gina dapat merasakan kedamaian, hidup damai dikampung dengan Jason, nenek dan pembantunya selama 5 bulan lamanya, sampai Jason meninggalkannya. Dan kali ini bukan hanya Gina yang pindah ke rumah neneknya, tapi juga mama Gina berkeras untuk tinggal bersama Gina.

2013 sudah berlalu. 2014 telah datang. Gina termenung di kamarnya yang senyap. Pagi baru merayap dan bau embun menyelusup ke hidupngnya. Segar..

Telepon genggamnya kembali bergetar, terus tak berhenti sejak semalam. Telepon dan pesan masuk, Gina tau siapa yang tak berhenti mencarinya.

Pintu kamarnya dibuka, mama Gina melongok dari kamar membawa segalas susu hangat.
“Pagi sayang” katanya sambil masuk dan tersenyum, meletakan gelas susu di meja belajar.
“Pagi mama” ucap Gina dengan ceria, senyumnya merekah di wajahnya. Gina mengulurkan kedua tangannya kepada mamanya, mamanya menyambutnya, memeluk putri kesayangannya dan mengecup dahinya. Putri kesayangannya telah kembali, ia bahagia.

“Mama tau siapa yang terus meneleponku sejak semalam?”
“siapa nak?”
“Joe”
“Gina sudah bicara dengan Joe?” Gina memandang mamanya sambil tersenyum.
“sepertinya dia sudah tau”
“Apa yang Gina pikirkan sekarang?” mama memandang Gina sambil mengelus-elus rambutnya.
“Gina pikir, mungkin Joe perlu tau yang sebenarnya dari aku langsung, bukan dari orang lain”
“Kalau menurut Gina itu yang terbaik, mama dukung Gina”
Gina tersenyum, diraihnya telepon genggamnya.

Cafe kecil, tempat terakhir ia melihat Joe sebelum Joe meninggalkannya dan tidak pernah kembali lagi. Hari ini tidak dengan rintik, tapi hujan lebat mengguyur kota itu.
Gina masuk ke dalam cafe itu, melipat payungnya yang basah dan meletakannya di pojok ruangan. Seseorang menyambutnya.
“Hai Joe” Gina tersenyum.
“Hai” ucap Joe berusaha tersenyum. lalu membimbing Gina ke meja di sudut ruangan. Joe terlihat banyak berubah. Terlihat lelah, atau lebih dewasa? Gina tak bisa membedakannya. Mereka memesan minuman lalu terdiam sampai pesanan mereka datang.

“Apa kabar?” tanya Gina sambil mengaduk coklat panasnya.
“Aku… sepertinya baik”
“Sepertinya baik? jawaban macam apa itu Joe?” sahut Gina sambil tertawa. Joe pun tertawa.
“Gina apa kabar?”
“Baik” Gina tersenyum.
“Gin, apa benar..?”
“Benar Joe” sahut Gina sambil tetap tersenyum.
“Kamu gak apa-apa Gin?”
Gina menghela napas.
“Joe, hidup manusia itu gak sempurna. Selalu saja ada masa-masa sedih, ada masa-masa senang. Dan ada masa dimana kita benar-benar jatuh. Tapi semuanya itu memang harus dilewati. Hidup memang seperti itu. Dan biarpun itu teramat sulit, namun berjalan seiring waktu, masa-masa itu pasti berlalu, dan terus berganti”
“Dan apa yang sudah berlalu biarlah menjadi memory, aku berusaha mengingatnya sebagai kenangan yang membahagiakan, meskipun saat itu aku cukup frustasi”
“Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu aku Gin?”
“umm.. aku tak ingin mengikat kamu dengan hal ini Joe, kalau terpaksa, kita berdua tak akan bahagia”
“Maafkan aku Gina, maafkan aku karena telah meninggalkanmu, dan membiarkanmu melewati hal yang berat ini sendirian” Joe menggengam jemari Gina.
“Tak apa, tak perlu minta maaf untuk apa yang sudah terjadi Joe. Aku bahagia dengan kehadiran Jason, biarpun aku harus kehilangan dia lagi. Dan itu merupakan pukulan yang berat buat aku. Tapi aku pernah memilikinya, dan aku bahagia” Gina menyeka airmata yang jatuh di sudut matanya. Joe terdiam.
“Namanya Jason?” tanya Joe perlahan. Gina memandang Joe.
“Ya, namanya Jason” sahut Gina tertawa.
“Nama yang bagus, dia pasti tampan seperti aku” sahut Joe, membuat Gina tergelak.
“Tentu saja tampan, tapi dia tak akan membuat kekasihnya patah hati” sahut Gina tergelak. Joe tertawa lalu memandang Gina dengan serius.
“Gina, what can i do to make it up to you? i miss you more than you ever know, baby” Joe memandang Gina dengan lembut dan dalam, Gina mencari kebenarannya disana. Dan dia melihatnya disana, Gina menemukan Joe yang dulu, Joe yang Gina kenal.
“Call me stupid, but yes i miss you so much too. And i’m gonna give you one more chance” Gina memeluk Joe dengan erat. Joe mengelus perut Gina, ingin merasakan tempat dimana putranya pernah tinggal selama 7 bulan.
“Marry me Gina, please” kata Joe dengan pandangan memohon.
Gina tersenyum bahagia.