Sang Pengantar Paket

Seorang pengantar paket yang baru sehari bekerja, bertugas mengantarkan sebuah paket berupa sebuah kotak. Bosnya bilang, akan ada paket serupa setiap hari, harus dikirimkan ke tempat yang sama dari Senin sampai Jumat, pada waktu yang sama pula. Bos nya bilang, penerima paket ini bersedia membayar sangat tinggi, sehingga bos sang pengantar paket mampu mempekerjakan sang pengantar paket baru ini.

Sang pengantar paket tersebut berjalan menuju sebuah gedung megah bertingkat. Ditangannya digenggamnya kotak itu dengan hati-hati, ia berjalan alamat yang tertera di kotak tersebut :

Untuk : Mr X
Alamat : Perusahaan Y
Jabatan : Direktur
No telp : xxxxxxxxxx
Note : tolong paket ini diberikan langsung kepada Mr X sebelum jam 1 siang, karena paket ini sangat penting. Bawalah paket ini dengan hati-hati.

Sesampainya digedung tersebut, sang pengantar paket berhenti di lobi lalu memindahkan paket itu ke tangan kirinya. Ia mengambil hp nya lalu menekan nomor telepon yang tertera di kotak tersebut.

“Halo” sebuah suara berat menyambutnya.
“Halo, dengan Mr X dari perusahaan Y?”
“ya ya betul sekali, anda siapa?”
“Saya sang pengantar paket, saya membawa sebuah paket yang harus saya serahkan langsung kepada mister”
“Baiklah, apakah anda dilobi?”
“Ya saya di lobi, dekat resepsionis”
“Oke oke, tunggu sebentar saya akan turun mengambil paket itu”
“Baik, terima kasih mister”
Telepon ditutup.

Lima menit berlalu sejak telepon itu ditutup. Sang pengantar paket melihat jam tangannya, pukul 12.40. Masih aman, dia bisa memberikan paket ini sebelum batas waktunya.
Sang pengantar paket memandang kagum pada interior megah kantor tersebut. Tentu saja, ini adalah kantor bonafid. Lihat saja, orang-orang yang berlalu lalang disini, yang tentunya adalah karwayannya, mereka terlihat sangat profesioal. Wanita-wanitanya terlihat segar dan cemerlang, tak ada yang tak menggunakan make up. Dan mereka menggunakan pakaian indah yang untuk ukuran sang pengantar paket, pakaian itu seharusnya dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan, atau lebih pantas dikenakan seorang artis atau penyanyi pada saat mereka sedang konser. Lengkap dengan sepatu berukuran tinggi, sang pengantar paket yang dulu sering merasakan sabetan sandal ibunya kalau merasa ngilu melihat betapa runcingnya hak-hak sepatu itu. Pria-prianya tidak ada yang mengenakan kaos oblong seperti dirinya. Semuanya mengenakan kemeja, berdasi lagi, dan banyak lagi yang berjas. Sepatu hitam mengkilat seperti yang sering ia lihat di iklan semir sepatu. Mungkin mereka menggunakan semir sepatu itu. Sang pengantar paket memandang kebawah, melihat sepatunya yang kusam. Ia berjanji akan membeli semir sepatu itu kalau sudah mendapat gajinya.

Ruangan sejuk berAC membuat sang pengantar paket merasa rileks dan betah. Sang pengantar paket membayangkan kantornya yang pengap. Bukan tidak ada AC, tapi satu-satunya AC diruangan besar dikantornya yang dihuni sekitar 10 orang itu rusak. Dan saat bosnya mewawancarai sang pengantar paket, bosnya bilang kalau kantornya tidak memerlukan AC. AC hanya akan menghilangkan aroma kerja keras dikantor tersebut (yang akhirnya disadari sang pengantar paket tadi pagi dikantornya, bahwa aroma kerja keras itu adalah bau pengap bercampur keringat yang tercium begitu ia memasuki kantornya).

Sepuluh menit berlalu, sang pengantar paket masih di lobi, menunggu sang empunya paket yang tak kunjung datang. Ruangan sejuk itu berubah menjadi seperti dalam kulkas, sang pengantar paket yang tak biasa dengan dinginnya AC mulai merasa kedinginan. Rasa dingin itu menjalar masuk ke kulitnya, masuk ke perutnya, menekan isinya perutnya. Dan tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu dalam tubuhnya, hal yang paling tidak dia inginkan saat ini, saat ia sedang bekerja. Tapi rasa itu semakin kuat, ya, dia merasa ingin buang hajat.

Kemana Mr X? kenapa membuatnya menunggu begitu lama? Sang pengantar paket menekan kembali nomor telepon Mr X, tapi kali ini teleponnya tidak diangkat. Ketenangannya hilang sudah, kini ia menjadi gelisah. Ia merapatkan kakinya menahan hajatnya yang sudah ingin keluar.

Mentang-mentang seorang direktur, apa bisa dia seenaknya membuat orang menunggu sedemikian lama? Benar-benar tidak menghargai orang. Apa Mr X pikir, pekerjaan pengantar paket itu tidak penting? Sang pengantar paket memaki direktur itu dalam hati. Ditekan-tekannya perutnya yang bergejolak.

Direktur sialan, mentang-mentang dia orang hebat. Apalah gunanya seorang direktur dibandingan pengantar paket yang bekerja kesana kemari agar paket-paket bisa terkirim ke tempat tujuannya pada waktunya? Direktur kerjanya hanya duduk-duduk saja, membiarkan orang menunggu lama, tanpa memikirkan orang lain. Apa hebatnya dia? Sialan!

Benar-benar tak bisa dibandingkan! Pengantar paket adalah pekerjaan mulia. Dunia akan sengsara tanpa pengantar paket, bayangkan, bahkan paket penting untuk direktur sialan itu pun harus diantarkan oleh pengantar paket. Hahaha! Pengantar paket adalah pekerjaan paling penting, kalau tidak ada pengantar paket, siapa lagi yang akan mengantarkan barang penting ini kepada direktur perusahaan sebesar ini? tidak ada! Pekerjaan direktur benar-benar tidak ada artinya dibanding pengantar paket. Tubuh yang pengantar paket gemetar, menahan dingin dan hajat yang semakin melesak.

Direktur gila! kemana dia! sialan! Coba bayangkan, apa pentingnya seorang direktur? kerjaanya hanya membuat orang kesal saja. mungkin dia menyuruh-nyuruh orang seenaknya. Lihat saja, sekarang sudah pukul satu lewat. Salah siapa paket ini menjadi terlambat?? Sang pengantar paket menyumpahi direktur itu dalam kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Sang pengantar paket memandangi orang-orang yang tadi dikaguminya dan masih dikaguminya. Dengan lemah ia mengakui dalam hatinya, ya, sang direktur adalah bos mereka. Bos orang-orang hebat ini, tentulah dia adalah orang yang hebat. Orang-orang yang pastinya bergaji besar. Bergaji besar sekali sehingga mampu membayar mahal untuk jasa pengiriman paket. Kemarahan sang pengantar paket melemah, berganti dengan ketidak berdayaan. Ia teringat perkataan bosnya, direktur ini membayar mahal untuk mendapatkan paket itu setiap hari, karena itu bosnya mempekerjakan sang pngantar paket baru itu, sial! umpat sang pengantar paket . Hajatnya sudah sampai diujung tanduk. Sang pengantar paket mengumpat lagi. Tangannya yang memegang paket itu mulai gemetar.

“Anda pengantar paket?” tanya seseorang berjas yang baru saja keluar dari lift.
“Ya , ya saya pengantar paket, anda Mr X?”
“ya, saya Mr X, maafkan saya karena membuat anda menunggu lama. Tadi saya mengalami sakit perut hebat, tak bisa tahan, maka saya ke toilet dulu membuang hajat” kata direktur tersebut sambil dengan senyuman yang sangat ramah. Ia mengambil paket dari tangan yang gemetar itu lalu berbalik dan menghilang kedalam lift.

Sang pengantar paket kehilangan kata-katanya. Ia berjalan keluar dengan gemetar hebat, entah karena kemarahan atau tidak bisa lagi menahan hajatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s