Trattoira Lafiandra

Lokasi  penulisan :  Dome Cafe @ Singapore Art Museum SIngapore

Waktu : 12 January 2014.  Pukul 15.18 – 17. 38 

(Today’s menu : Chocolate Lava with Gelato and ice latte without sugar)

Trattoria Lafiandra, nama itu tercetak di papan petunjuk arah di bagian samping museum itu. Mungkin dari sana namanya berasal. Artinya? Andra sendiri tidak tau. Ia berjanji akan mencari tahu nanti, tidak sekarang. Sekarang Andra hanya ingin berjalan-jalan, menikmati udara segar serta tempat baru yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. 

“Nona” Andra menoleh saat seseorang memanggilnya. 

“Ya?” dilihatnya seorang pria paruh baya dengan berkemeja putih membawa menawarkan brosur, Andra pun menerimanya tanpa minat.

“Mau masuk kedalam? nona harus beli tiket dulu di konter. Pria itu menunjuk sebuah pintu. 

“Tidak terima kasih pak, lain kali saja” 

Biarpun saat ini ia menikmati suasana di sekitar museum, tapi belum ada keinginan dirinya untuk masuk kedalamnya. 

Andra memiliki sedikit minat untuk seni, dia berharap dia lebih berdarah seni dan bisa mengerti arti lukisan-lukisan orang terkenal yang mempunyai makna tertentu. Dia berharap dia bisa membuat sesuatu yang indah yang dapat dinikmati banyak orang, tapi sepertinya itu bagai mimpi disiang bolong. Ayah dan ibunya pun tidak membantuk karena tidak meneteskan setitikpun darah seni kedalam tubuhnya. Sejauh yang Andra tahu, tidak ada satupun dari saudaranya yang menjadi pekerja seni, paling banter hanya bisa main gitar.  Makanya Andra sangat heran saat menemukan namanya tertulis di Museum seni ini, berarti namanya berkaitan dengan seni, atau mungkin mama papanya berharap anaknya bisa membuat karya seni, entahnya. Mungkin ia akan menanyakan pada papa mamanya nanti. 

Andra akhirnya menghentikan perjalanannya yang tidak menentu dan berlabuh di Dome Cafe, memesan Chocolate Lava with Gelato dan Ice Latte, without sugar. mengambil tempat dihalaman luar karena didalam terlalu ramai. Andra duduk menikmati pesanannya, menikmati suasana favoritenya, suasana sesudah hujan, angin yang bertiup masih dingin kadang membuat bulu kuduknya merinding, Bajunya yang tipis tidak sanggup menahan alirannya. Andra menyeruput Lattenya sambil memandangi papan petunjuk arah yang memuat namanya, yang terlihat jelas dari tempat dia duduk. Angin sepoi menyapu matanya hingga perlahan-lahan menutup.

—-

“Sofia, tak perlu memasak lagi” mamaknya melongok dengan kesal ke dalam dapur, memandangi putrinya yang sedang berperang didapur, wajahnya berlukiskan tepung yang tersebar kemana-mana. 

“Ya mamak, satu kali saja, Sofia pasti bisa membuat pasta yang enak” Sofia menyeka pipinya, menambah riasan tepung di wajahnya.

“Beli saja lah pastanya, baru kamu yang siapkan bumbu. atau beli saja bumbu instant, sudah pasti enak”

“tidak mama, Sofia ingin membuatnya sendiri. Mama harus yakin, Sofia pasti bisa, kan Sofia punya mamak yang pandai masak” 

“Tapi mamak tak pandai masak pasta dari italy, mamak hanya pandai masak pasta dari asia namanya mie goreng” mamak pun menyerah membiarkan putrinya memporak porandakan dapurnya, sekali lagi, dan lagi dan lagi. 

“Hello Signora, come stai?” 

“Sto bene. grazie. Aku membuatkanmu pasta lagi, cobalah, semoga kali ini lebih enak” Sofia menyuguhkan sepiring aglio olio masih hangat kepaa suaminya. 

“Grazie Sofia, kau tak perlu repot-repot membuatnya” Carlo menerima bungkusan itu dengan tersenyum. Dalam hatinya ia terkesan dengan gadis manis dihadapannya, yang tidak pernah menyerah pada keinginannya membuatkan pasta yang lezat. Ini sudah ke empat, tunggu, lima kalinya Sofia memasakan eksperimen pasta untuknya. 

“Tak merepotkan kok. Aku senang, aku ingin kamu bisa merasakan pasta yang enak disini, jadi kamu bisa mengobati sedikit rasa rindumu pada Italy. Sofia tersenyum. Carlo menatap mata wanita pujaanya dalam-dalam. Dulu ia pernah meragu untuk meneruskan bisnisnya di negara ini, tapi tidak setelah ia bertemu Sofia dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulit gelap eksotisnya, lesung pipinya, giginya yang bergingsul yang membuatnya bertambah manis saat tersenyum. Semuanya dirangkum dalam suatu wajah berbentuk sempurna, ditambah mata bulat biru yang bersinar-sinar, dan hidung mancung yang tidak semestinya ada disana. Tapi ada disana karena tetesan darah neneknya seorang Belanda, dan yang memberinya nama tengah Sofia, lengkapnya Ni Luh Sofia Margaretha, seorang gadis Bali dengan tetesan darah Belanda yang kini menetap bersamanya dan mamaknya di negara Singapura.

“Grazie amore mio” 

Sofiia tersenyum. 

“Bagaimana rasanya?” 

Enak sekali, al dante” Carlo menghabiskan pastanya, pasta ala Asia yang dibuat dengan penuh cinta. 

“Aku tak percaya, katakan padaku yang sesungguhkan, apakan itu sudah mirip dengan pasta Italia?” 

Carlo berpikir. Lalu tersenyum, memandang mata wanita pujaannya yang menatapnya penuh harap. 

“Bella mia, aku akan katakan sejujurnya. Pasta ini lebih berasa Asia daripada Italia” Carlo masih tersenyum memandang wajah Sofia yang berubah kecewa. 

“Tapi pasta ini sangat enak, bahkan lebih enak daripada pasta Italia, kau tahu kenapa?” ucapnya lagi. Sofia menggeleng, masih kecewa. 

“Karena aku tahu, pasta ini dibuat dengan penuh cinta” Carlo mengecup lembut bibir merah Sofia yang berubah dari kecewa menjadi senyum. Dibalasnya kecup itu. 

Sudah hampir 2 tahun Sofia menikah dengan Carlo, sang pengusaha rempah-rempah  dari Italia. Dan Sofia masih terus mencoba membuat pasta rasa Italia setiap hari sabtu untuk suaminya. Carlo membiarkan istrinya mencoba berbagai-bagai macam resep pasta, dari yang lumayan sampai yang rasanya benar-benar unik, kalau tidak mau disebut aneh karena terkadang bumbu-bumbunya itambah dengan rempah-rempah dari Bali, atau rempah-rempah china atau asia lainnya. 

“Bella mia, Sabtu ini tidak usah memasakkan aku pasta, aku ingin membawamu ke suatu tempat untuk merayakan ulangtahun perkawinan kita yang ke 2” 

Maka hari itu Sofia sudah berdandan dengan cantik, gaun satin berwarna gading dengan payung rendanya, Carlo menjemputnya dengan tuxedo hitam. Kereta kuda sudah menanti mereka didepan rumah. Kereta kuda pun melaju, Carlo dan Sofia menyapa Shi Lin, gadis tetangga yang mengenakan cheongsam dengan kain merah berbunga kuning yang berjalan dengan kekasihnya. 

“Kita kemana?” tanya Sofia.

“nanti bella mia tahu sendiri, nikmati saja perjalanannya” Sofia pun menurut. Memandang indahnya kota, memandang selat didepan gedung Fullerton. Tangan kirinya digenggam erat oleh suaminya sementara tangan kanannya menahan gaunnya agar tak berkibar. 

“Kita sudah sampai bella mia” Carlo menuntunnya turun. Sofia memandang sekelilingnya.

“Aku tidak tahu kau suka seni, Carlo sayang” 

“Aku memang kurang suka seni, dan aku tidak punya darah seni” 

“Sejujurnya Carlo, aku tidak sepenuhnya mengerti tentang seni”perkataan jujur Sofia membuat Carlo terbahak. 

“Kau pikir aku mengerti?” kali ini Sofia yang terbahak. 

“Bukan itu tujuanku berada disini bella mia” Carlo mengandeng tangan Sofia yang dibalut dengan sarung tangan putih”

“Ini dia” mereka berdiri ditempat dengan papan nama terpampang bertuliskan “Trattoria Lafiandra” 

“Ini?” Sofia melongok ke dalam. 

“Ini adalah sebuah restaurant italia., mari kita masuk” mereka pun mengikuti seorang pelayan yang menunjukan mereka meja. 

“Dulu aku sering kesini, saat kangen makanan Italia” kata Carlos sambil membolak balik menu didepannya. 

“Kapan terakhir kali kamu pergi kesini?” 

“Sudah lama, sebelum kita menikah, bella mia” 

“Lalu, kenapa tidak pernah kesini lagi sesudah kita menikah? Dan apakah kamu mengajakku kesini agar aku bisa merasakan rasa Italia itu seperti apa? sehingga aku bisa memperbaiki rasa pasta yang kubuat kah?” Carlos terbahak. 

“TIdak bela mia, Karena aku terlalu menikmati hidupku denganmu, dan aku merasa hidupku bukan lagi rasa Italia. Hidupku kini percampuran rasa Italia, Bali Indonesia dan Singapura, dengan bumbu cinta. Aku tidak lagi perlu rasa Italia untuk membuatku bahagia, karena aku sudah punya engkau” 

Sofia tersenyum. 

“Lalu, mengapa tiba-tiba engkau mengajakku kesini?” 

“Aku ingin membawa engkau merasakan rasa Italia bersama dengan aku, karena kalau aku tidak bersama dengan engkau, bahkan rasa Italia pun menjadi tidak enak lagi bagiku” 

Sofia tersenyum, cinta nya semakin besar kepada suaminya.

“Kalau kita punya anak perempuan nanti, aku akan memberinya nama Lafiandra. Karena ditempat ini aku merasakan betapa beruntungnya aku mendapatkan engkau, dan rasa cintaku bertambah kepada engkau” 

—-

Cipratan air menghentak Andra, ia pun terbangun dari tidurnya. Rupanya udara yang sejuk telah membuatnya tertidur bangku-bangku di Cafe itu. Hujan rupanya. Ia segera membereskan barangnya,  membayar pesanannya. Lalu pulang. 

— 

Dirumah, sesudah mandi dan mencuci rambutnya, Andra menemukan mamanya sedang membuat makan malam. 

“mom Andra mau tanya dong”

“Tanya apa nak?” 

“Siapa yang kasih nama Andra mom?”

“Oma Sofie yang kasih, kenapa?”

“Kenapa bukan papa dan mama yang kasih nama Andra?”

Waktu dulu, papa mu cerita. Kalau mamanya, oma Sofie, ingin memberikan nama Lafiandra kalau beliau punya anak perempuan, namun ternyata oma Sofie dan Opa Carlos hanya mempunyai anak laki-laki. Karena itu papa akhirnya memberi nama kamu sesuai dengan apa yang oma mau”

“Mom tau kenapa oma memberi nama Lafiandra?’

“umm mom tidak tahu, papamu juga pernah bertanya tapi tidak diberi tahu.  Kenapa Andra tiba-tiba tanya tentang nama Andra? Andra tidak suka?” 

“Suka sekali ma” jawab Andra tersenyum. 

Suka sekali, terutama karena Andra mengetahui ternyata namanya bukan hanya sekedar nama Restaurant, tapi ada makna yang romantis dan penuh cinta didalamnya. Dan itu menjadi rahasia Andra dengan almarhum Oma Sofie yang didapatnya melalui mimpi 🙂 

Lain kali, ia akan mencobanya. Trattoira Lafiandra . 

*cerita ini hanya fiksi belaka, tidak sesuai dengan sejarah dan waktu. 

*The trattoira/ restaurant is a real place, you can find it at Trattoira Lafiandra

*Lava cake with gelato is so so, ice latte is quite nice 🙂 

* Location : Singapore Art Museum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s