Unwanted tomorrow

I hold my sleepiness
To listen to your breathing till dawn
Because tomorrow
I might not be there anymore

Advertisements

Aku selalu ada..

Panggil aku dengan sebutan apapun yang kamu mau
Aku bisa menjadi, apapun yang kamu perlu
Hanya jangan harapkan aku ada disitu terlalu lama
Walaupun aku ingin, aku hanya sementara..

Ingatlah aku,
setiap kali kau melihat topengku,
atau mendengar namaku.
Peluk aku saat kau bisa,
karena sedetik kau berpaling
aku sudah tak ada lagi disana

Hei hei..
tapi kau bisa mencariku disini
dan mungkin kau akan menemukan secuil kisahmu
disini
Aku selalu adaA

One More Chance

blogger-image--1187750399

2013 sudah berlalu, Gina merenunngi apa yang sudah berlalu, membiarkan ingatannya mengembara ke tahun lalu, dan selalu, berpusat pada satu titik. Jason.

Betapa kehilangannya merupakan suatu yang membuat setengah tahun hidupnya kelam, perasaan sedih yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Bahkan lebih sedih daripada ketika Gina kehilangan kakek tercintanya.

“Joe, kenapa? aku gak mau putus. kita udah bersama-sama sekian lama, apa segampang itu buat kamu putus sama aku Joe?
“Sorry Gin, nanti gue ngomong lagi sama lo ya, gue ada perlu” Joe pun pergi meninggalkan Gina di sebuah cafe kecil. Joe pergi ditengah rintik hujan. Gina terdiam, ia tau, harapannya untuk membuat Joe seperti dulu lagi hilang sudah. Joe benar-benar sudah berubah, seratus delapan puluh derajat. Joe yang sekarang, Gina tidak pernah kenal.

Sejak hari itu, Gina tidak pernah mencari Joe lagi. Dan seperti yang ia duga, Joe juga tidak pernah mencarinya.
2 bulan setelah itu merupakan saat dimana Gina harus mengambil keputusan terbesar dari hidupnya. Bukan hanya karena dia harus meninggalkan pekerjaannya, kota tempat dia bekerja, bahkan juga orang tuanya. Gina memilih tinggal dengan neneknya di kampung, dimana jarang sekali orang yang kenal dengan Gina.
Keputusan yang sempat menjadi pro dan kontra dalam keluarganya, namun akhirnya mereka mau menerima dan mensupport Gina. Akhirnya mereka membekali Gina dengan seorang pembantu, untuk membantu pekerjaan rumah sehari-harinya di rumah nenek. Bulan bulan berikutnya, Gina dapat merasakan kedamaian, hidup damai dikampung dengan Jason, nenek dan pembantunya selama 5 bulan lamanya, sampai Jason meninggalkannya. Dan kali ini bukan hanya Gina yang pindah ke rumah neneknya, tapi juga mama Gina berkeras untuk tinggal bersama Gina.

2013 sudah berlalu. 2014 telah datang. Gina termenung di kamarnya yang senyap. Pagi baru merayap dan bau embun menyelusup ke hidupngnya. Segar..

Telepon genggamnya kembali bergetar, terus tak berhenti sejak semalam. Telepon dan pesan masuk, Gina tau siapa yang tak berhenti mencarinya.

Pintu kamarnya dibuka, mama Gina melongok dari kamar membawa segalas susu hangat.
“Pagi sayang” katanya sambil masuk dan tersenyum, meletakan gelas susu di meja belajar.
“Pagi mama” ucap Gina dengan ceria, senyumnya merekah di wajahnya. Gina mengulurkan kedua tangannya kepada mamanya, mamanya menyambutnya, memeluk putri kesayangannya dan mengecup dahinya. Putri kesayangannya telah kembali, ia bahagia.

“Mama tau siapa yang terus meneleponku sejak semalam?”
“siapa nak?”
“Joe”
“Gina sudah bicara dengan Joe?” Gina memandang mamanya sambil tersenyum.
“sepertinya dia sudah tau”
“Apa yang Gina pikirkan sekarang?” mama memandang Gina sambil mengelus-elus rambutnya.
“Gina pikir, mungkin Joe perlu tau yang sebenarnya dari aku langsung, bukan dari orang lain”
“Kalau menurut Gina itu yang terbaik, mama dukung Gina”
Gina tersenyum, diraihnya telepon genggamnya.

Cafe kecil, tempat terakhir ia melihat Joe sebelum Joe meninggalkannya dan tidak pernah kembali lagi. Hari ini tidak dengan rintik, tapi hujan lebat mengguyur kota itu.
Gina masuk ke dalam cafe itu, melipat payungnya yang basah dan meletakannya di pojok ruangan. Seseorang menyambutnya.
“Hai Joe” Gina tersenyum.
“Hai” ucap Joe berusaha tersenyum. lalu membimbing Gina ke meja di sudut ruangan. Joe terlihat banyak berubah. Terlihat lelah, atau lebih dewasa? Gina tak bisa membedakannya. Mereka memesan minuman lalu terdiam sampai pesanan mereka datang.

“Apa kabar?” tanya Gina sambil mengaduk coklat panasnya.
“Aku… sepertinya baik”
“Sepertinya baik? jawaban macam apa itu Joe?” sahut Gina sambil tertawa. Joe pun tertawa.
“Gina apa kabar?”
“Baik” Gina tersenyum.
“Gin, apa benar..?”
“Benar Joe” sahut Gina sambil tetap tersenyum.
“Kamu gak apa-apa Gin?”
Gina menghela napas.
“Joe, hidup manusia itu gak sempurna. Selalu saja ada masa-masa sedih, ada masa-masa senang. Dan ada masa dimana kita benar-benar jatuh. Tapi semuanya itu memang harus dilewati. Hidup memang seperti itu. Dan biarpun itu teramat sulit, namun berjalan seiring waktu, masa-masa itu pasti berlalu, dan terus berganti”
“Dan apa yang sudah berlalu biarlah menjadi memory, aku berusaha mengingatnya sebagai kenangan yang membahagiakan, meskipun saat itu aku cukup frustasi”
“Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu aku Gin?”
“umm.. aku tak ingin mengikat kamu dengan hal ini Joe, kalau terpaksa, kita berdua tak akan bahagia”
“Maafkan aku Gina, maafkan aku karena telah meninggalkanmu, dan membiarkanmu melewati hal yang berat ini sendirian” Joe menggengam jemari Gina.
“Tak apa, tak perlu minta maaf untuk apa yang sudah terjadi Joe. Aku bahagia dengan kehadiran Jason, biarpun aku harus kehilangan dia lagi. Dan itu merupakan pukulan yang berat buat aku. Tapi aku pernah memilikinya, dan aku bahagia” Gina menyeka airmata yang jatuh di sudut matanya. Joe terdiam.
“Namanya Jason?” tanya Joe perlahan. Gina memandang Joe.
“Ya, namanya Jason” sahut Gina tertawa.
“Nama yang bagus, dia pasti tampan seperti aku” sahut Joe, membuat Gina tergelak.
“Tentu saja tampan, tapi dia tak akan membuat kekasihnya patah hati” sahut Gina tergelak. Joe tertawa lalu memandang Gina dengan serius.
“Gina, what can i do to make it up to you? i miss you more than you ever know, baby” Joe memandang Gina dengan lembut dan dalam, Gina mencari kebenarannya disana. Dan dia melihatnya disana, Gina menemukan Joe yang dulu, Joe yang Gina kenal.
“Call me stupid, but yes i miss you so much too. And i’m gonna give you one more chance” Gina memeluk Joe dengan erat. Joe mengelus perut Gina, ingin merasakan tempat dimana putranya pernah tinggal selama 7 bulan.
“Marry me Gina, please” kata Joe dengan pandangan memohon.
Gina tersenyum bahagia.

Hanya Aku..

Senyap sedikit mengembarakan
membawa angin malam dalam relung menyisakan dinginnya
aku tertutup mata dan hati tetap berbicara
pikiranku separuh melayang separuh terlelap
aku pun tak tau apa yang aku inginkan
mencari sedikit yang masih bisa mengenangku

setelah terakhir, tak ada lagi kenanganmu
tak lagi masa lalu tapi masa depan
penghias tidurpun tidak
bersamamu dalam mimpi pun tidak

gelapku dan pagimu bersinar
aku menyeruak dalam setiap ingatanku
memusnahkan setiapnya
aku adalah aku
dan aku saja, tidak kamu

Nyonya Marie

Nyonya Van der Berg, yang bernama gadis Marie, dalam usianya yang sudah melewati enam puluh tahun, tubuhnya masih tetap ramping seperti saat masih remaja. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dirinya.

Marie rela mengajak keluar dan mentraktir teman-teman lamanya hanya untuk melihat bentuk tubuhnya. Dan lagi dan lagi, sesuai dengan apa yang Marie harapkan, Marie selalu mendapatkan bahwa teman-teman nya yang dulu ramping kini sudah mengembang dengan lemak bergelambir di beberapa bagian tubuh mereka, terutama perut.
Ini karena melahirkan, kata temannya. Tapi mereka tak bisa membela diri terlalu banyak karena Marie yang berbadan ramping berperut rata itu sudah melahirkan empat orang anak.

Hari ini merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Marie. Hari pertemuan dengan teman-teman lamanya. Marie sudah mengatur agar mereka mengadakan pertemuan sebulan sekali, dengan alasan untuk menjaga tali persahabatan agar tidak terputus begitu saja. Tentu saja, Marie yang akan membayar semua biaya dari pengeluaran itu.

Benar saja, sekali lagi Marie menjadi pusat perhatian di pertemuan yang terdiri dari enam orang itu. Karena entah bagaimana, Marie selalu berhasil membawa topik tentang berat badan ke dalam pertemuan itu. Dan tak bosan-bosannya, temannya berusaha mendapat sedikit resep untuk mendapatkan tubuh langsing.
“Aku heran bagaimana badanmu bisa tetap langsing setelah melahirkan beberapa anak”
“Suamimu tentu sangat bangga dan bahagia memiliki istri yang bertubuh langsing”
“Beri kami tips untuk bisa langsing sepertimu Marie”
Pertanyaan beruntun dari teman-temannya itu tentu saja membuat Marie lebih merasa bersemangat lagi.
“Kalian harus berpikir betapa menyedihkan hidup kalian. Kau, Amber dan Gina, suamimu menceraikanmu. Jika tubuhmu langsing dan menarik, tentu dia tak akan meninggalkanmu. Lihat saja suamiku, mana mungkin dia meninggalkan aku. Dia pasti bangga sekali terhadapku. Dan aku tidak pelit, akan kuberi tahu bagaimana menjaga tubuh agar tetap langsing. Rahasianya ada di piring kita masing-masing.Coba lihat apa yang ada di piring kalian, dan lihat apa yang ada di piringku” Marie memandang jijik ke piring teman-temannya yang berisi daging steak berlemak. Di lain pihak teman Marie memandang tanpa napsu pada isi piring Marie yang hanya berisi salad tanpa dressing dan buah potong.
Lalu Marie seperti biasa menceramahi teman-temannya tentang gaya hidup sehat, teman-teman Marie mendengarkan dengan seksama, memandang Marie tanpa kedip sambil menyuapkan potongan-potongan daging dan puding-puding coklat ke mulut mereka.

Pertemuan berakhir, dengan bangga Marie melenggang meninggalkan teman-temannya. Menaiki taksi pertama yang berhenti di hadapan mereka. Sepeninggalan Marie, teman-temannya yang pulang bersama berjalan kaki.

“Selalu saja, Marie selalu membicarakan berat badan dan mencemooh kita karena kita tidak bisa ramping seperti dia. Aku muak sekali mendengarnya”
“Betul, Marie salalu membicarakan topik berat badan setiap pertemuan. Aku merasa seperti orang bodoh saja. Lagipula, siapa yang mau tubuh kerempeng seperti dia? aku lebih suka tubuhku biarpun aku gendut tapi tapi sexy”
“betul, dan payudaramu besar” kata salah satu dari mereka yang disambut tawa riuh oleh yang lain.
“Dan seenaknya saja dia bicara suamiku meninggalkanku karena bentuk badanku, padahal aku yang meninggalkannya karena dia tukang mabuk”
“Kalau bukan untuk makanan enak dan gratis sebulan sekali, aku tak sudi bertemu Marie lagi”
“Betul, aku juga”
“Eh kau tau, aku dengar suami Marie ada main dengan wanita dari kota sebelah”
“ya aku pun mendengar gosipnya, dan kabarnya wanita itu bertubuh montok”
“itu bukan gosip, aku melihatnya sendiri suami Marie bercumbu dengan wanita montok dibelakang bar tempatku bekerja”
“Marie yang malang..”
“kukira aku akan tetap menghadiri undangannya”
“ya.. Marie yang malang..”
sayup-sayup suara mereka menghilang seiring dengan semakin jauhnya mereka berjalan.