1st Love <3

Cinta monyet itu seperti pertama kali saya naksir kakak kelas saya waktu SMU kelas 1. Saya lupa dimana saya pertama kali melihatnya, tapi yang jelas saya selalu melihat dia lewat didepan kelas saya setiap pagi (karena kelas saya berada paling depan). Dan karena dia selalu datang pagi sekali (karena rumahnya dekat sekolah), saya selalu berusaha datang lebih pagi lagi, biarpun akhirnya saya bengong dipinggiran jendela yang menghadap ke koridor. Kadang saya jadi nyapu-nyapu dan beres-beres kelas biarpun bukan jadwal saya piket.

Begitu dia lewat, saya bahkan cuma berani melihat dia sekilas, lalu saya menunduk atau buang muka karena malu. Takut dia memperhatikan. Dan saya selalu mencari-cari alasan untuk lewat ke kelas dia, yang paling sering saya lakukan adalah pergi ke koperasi, karena kelas dia tepat sebelah koperasi. Biasanya dia nongkrong-nongkrong depan kelasnya dengan teman-temannya, dan saya lewat situ dengan menunduk. Takut dan malu 😀

Cowok itu hobi basket, jadi ada pertandingan , dia selalu ikutan lomba, saya paling hobi nongkrong cuma mau liatin dia doang 😀

Saya inget dulu temen kost saya bilang, kalau mamanya kenal sama mama cowok ini, terus saya dikasih tau nomor telp rumahnya. Ada beberapa kali saya telp ke rumahnya pake telepon umum koin . Please note, ini juga karena dipaksa sama temen kos saya. Tapi saya akhirnya jadi ketagihan iseng buang koin cuma mau dengeri suaranya bilang “halo” hahaha..

Well, misi ga sukses, sampai akhirnya dia ilang dari sekolah, saya tetep nggak pernah kenalan sama dia. Jadi waktu itu saya kelas 1 SMU, dia kelas 2. Tapi waktu saya naik ke kelas 2, dia ilang. Denger punya denger dia ngelanjutin sekolah bahasa ke China. Begitulah.

Nggak pernah denger kabarnya lagi sampai jaman kuliah, saya kuliah di Bandung, cowok ini katanya sih kuliah di Jakarta, sekampus sama temen kos saya waktu SMU. Dan entah gimana tuh, temenku kasih saya nomor telp cowok itu.

Kalo dipikir-pikir hebat banget ya temen saya itu, bisa dapet infonya gak tau darimana, mantep banget padahal orangnya diem-diem gitu hahaha..

Anyway.. akhirnya ada beberapa kejadian yang saya nggak bisa ceritain disini. Dan kejadian-kejadian itu berlangsung sampai dalam jangka waktu yang lama, pokoknya akhirnya  saya sadar. Selama ini saya suka banget sama fisik dan”image” dia yang saya bangun sendiri. Bukan sama orangnya sendiri, karena saya selama ini tidak pernah kenal dekat sama orangnya. Waktu akhirnya ada kesempatan kenal, akhirnya saya bisa lihat kalau dia ini aslinya tidak sama dengan “image” yang saya bayangkan.

Runtuhlah “ide”saya tentang sosok cinta pertama yang selama ini selalu ada dihati saya.

Begitulah, akhir tragis dari cinta pertama saya hehehe :D!

Advertisements

Cinta itu ..

kiss

kiss

Cinta itu seperti seseorang
yang tersimpan disudut hati terlalu lama

Cinta itu seperti sewaktu-waktu menekan nomor hp
seseorang
padahal kita tau nomor itu sudah lama mati

Cinta itu seperti menyimpan potongan-potongan surat masa lalu
karena hanya itu yang kita punya saat orang yang menulisnya tak ada lagi

rain

rain

Cinta itu seperti menjadi separuh gila
berani mengajak seseorang memulai hidup baru bersama
padahal sudah ada seseorang disisinya

Cinta itu seperti saat mabuk lalu menelepon seseorang
hanya untuk mengatakan i love you

Cinta itu seperti  berubah untuk seseorang
yang dilakukan perlahan tanpa ingin diketahui
dengan penuh rasa gengsi
demi seseorang yang dicintai

Cinta itu seperti sebuah cerita yang walau berakhir menyedihkan
namun saat mengenangnya kau tersenyum

Itulah cinta … 🙂

Underwearheads

Menulis Puisi ~ Menemukan aku

Terinspirasi dari acara launcing buku “Sound of Mind” yang ditulis oleh para guru, dan “Saga Seed” yang ditulis oleh Patricia Maria de Souza, saya jadi penasaran sama diri saya sendiri, apa saya bisa membuat puisi?

2 minggu lalu ada acara Singapore Writers Festival, di acara itu ada beberapa launching buku, acara dengan penulis dll. Saya kesana tanpa tujuan, dan akhirnya secara tak sengaja mengikuti acara launching beberapa buku, diantaranya buku-buku puisi yang saya sebutkan diatas.

Diacara launching itu, banyak puisi dibacakan. Ada yang menarik dan ada yang biasa saja, biasa saja disini berarti menurut saya puisi itu ngga ada maknanya dan nggak kemana-mana. Kosong. Maap saya bukan pengamat puisi juga sih, ini hanya pendapat saya saja 🙂 Dan saya juga sadar saya bukan penulis puisi, bukan fans puisi dan tidak begitu tertarik dengan puisi. Tapi boleh lah saya coba-coba ya.

ini puisi yang saya tulis waktu saja sedang berada/ setelah mengikuti acara launching buku-buku puisi itu :

Menemukan aku,

Suara dengung bagai lebah berkejaran
Bahasa yang sama namun tak bisa kucerna 

Yang kukenal hanya senyum dan tawa
Lainnya tidak, 

Hilang dalam dunia yang … ? 
Ini bukan duniaku
Aku hanya tersesat sampai disini
Tapi disini aku menemukan, 
Aku.. 

Finding I, 

The buzzing sound is chasing each other
in the same language i can’t understand
can only tell the smile and laughter
and thats all.

Lost in the world that … ?
Yes this is not my home
I just got lost up here
But in here i found ,
I ..

Remembering Ben

Namanya Ben, dia pernah memberiku seekor beruang putih bernama Rainbow. Dia membeli Rainbow dengan harga dua puluh lima koin. Kadang saat aku sedang pergi ke luar kota menemui orangtua ku, kutitipkan Rainbow padanya. Dan setiap hari dia akan mengirimkan fotonya dengan Rainbow kepadaku, dan bilang kalau dia dan Rainbow tak sabar menungguku kembali.

Dia membuatkanku sebuah tempat penuh bunga, dengan lampu berpijar-pijar dan pesan-pesan yang ditempel di tempat-tempat tersembunyi yang berisi kata-kata penuh cinta. Hanya aku dan dia saja yang bisa masuk kesana. Biasanya kita mengobrol sampai pagi disana. Kau memberi nama tempat itu, tapi aku sudah lupa sekarang, sudah terlalu lama.

Sudah lama aku tak berkunjung lagi kesana, karena kebahagiaannya tidak lagi sama. Tempat itu tidak lagi menarik, pesan-pesan cinta tidak lagi bertambah. Rainbow pun hanya bermain-main sendiri. Kadang aku datang mengajak Rainbow bicara, kadang hanya membaca ulang pesan-pesan cinta itu, puluhan pesan itu masih ada. Dari awal kita kenal, sampai akhirnya kamu tidak ada lagi.

hey Ben, mash ingatkah kau dengan pohon jeruk dan petal bunga yang pernah kau berikan kepadaku?. Tahukah kau kalau Rainbow sudah punya anak, dan aku memberinya nama Cupcakes? Cupcakes bawelnya luar biasa, entar meniru siapa. Padahal Rainbow sangatlah kalem seperti aku. Mungkin dia meniru kau 😛

Hey Ben, tahukah kau bahwa kadang aku memikirkan masa lalu? masa-masa kita mencari salju dan es bersama-sama, kita mrmbangun winter wonderland bersama, bermain dengan Rainbow, dan bahkan bergosip tentang mojo-jojo, si orang belanda yang kita anggap aneh tapi selalu memberi harga murah dan memberi kita hadiah-hadiah tak penting yang sampai saat ini aku belum membukanya karena ku tau isinya paling hanya bebek atau poci saja. Bahkan kita merasa box nya lebih menarik daripada isinya 🙂
Semua dalam dunia imajinasi kita Ben..

Tapi yang membuat aku merindukanmu dengan sangat adalah genggaman tanganmu yang tidak pernah mau kau lepas, sentuhan bibirmu pada bibirku dengan lembut, pelukan hangatmu saat kamu mengantarku pulang, menghabiskan setiap hari berdua denganmu.
Itu semua bukan imajinasi, Ben. Itu adalah kenangan kita..

Somewhere over the rainbow
Blue birds fly
Birds fly over the rainbow
why oh why cant i?

Samar-samar terdengar, sebuah suara yang out of tune menyanyikan lagu ini, dan aku tiba-tiba aku mengingatmu. Dan aku tersenyum 🙂

Ben & me

Ben & me

IMG_0068